Minggu, 25 Januari 2009

tentang babakan siliwangi

di ambil dari http://www.km.itb.ac.id

Keluarga Mahasiswa ITB
Babakan Siliwangi : Kecolongan!



Written by nanta
Monday, 26 January 2009 04:19
Kita kecolongan!! Kita disini dalam artian orang-orang yang berkomitmen dan konsisten dalam menjaga kawasan Babakan Siliwangi. Saya pribadi telah ditipu oleh orang yang mengaku sebagai orang yang bergerak di bidang penghijauan dengan sukarela. Orang yang mengatasnamakan suatu perguruan pencak silat ini pada awalnya melakukan penghijauan di Babakan Siliwangi. Tahap awal yang dilakukannya adalah membersihkan tanaman-tanaman liar. Setelah di bersihkan dibuat lobang untuk ditanam. Lobang yang sudah digali tidak langsung ditanam, harus dibiarkan selama 1 bulan dulu.

Pada saat sidang amdal, pihak pengembang mengatakan sudah melakukan penghijauan. Mereka memperlihatkan bukti-bukti berupa foto. Terus terang saya kaget saat melihat foto-foto tersebut. Foto yg dipaparkan adalah lahan-lahan yang ditanam oleh relawan yang sudah saya kenal sebelumnya. Saya beserta 2 teman berfikir dua hal. Bisa jadi si relawan dan pihak pengembang sudah bekerja sama sebelumnya atau pihak pengembang cuma mengklaim. Dari analisis yang saya lakukan lebih condong ke si relawan sudah bekerja sama. karena posisi lobang sesuai dengan gambar rancangannya. "Berarti saya sudah ketipu" kata saya dalam hati.

Area penghijauan hampir mencakup semua lahan babakan siliwangi. Mulai dari pinggiran sungai sampai tempat yang biasanya menjadi lahan parkir anak ITB yang kini sudah ditutup oleh Sarpras ITB.

Saya berfikir, ini sudah kecolongan sangat jauh. Mulai dari penandaan pohon-pohon sampai penghijauan. Bagi saya ini sebuah pelanggaran. Pengembang dengan menggunakan alibi sebagai penghijauan sudah mulai tahap pembangunan. Anggap saja penanaman ini sebagai langkah awalnya dan posisi tanamannya pun sesuai dengan rancangan. Harusnya ini
dilakukan kalau izin mendirikan bangunan (IMB) sudah keluar. Mungkin jurusan Planologi lebih mengerti tentang hal ini.

Kata seorang teman, di dunia "persilatannya" hal ini biasa terjadi. Saling mengklaim sudah menjadi cara yg paling gampang. Saya pribadi belum bisa mewaspadai kejadian seperti ini. Seperti inilah dunia politik yg harus saya hadapi. Dunia yg masih baru bagi saya. Sempat solusi terfikirkan, yaitu lewat jalur hukum. Kata seorang teman, "hukum bisa dibeli boy!!" saya lupa kalau saya berada di negara Indonesia yang kalau kata orang "ada uang semua beres". Mungkin
perkataan teman saya ada benarnya juga. Jadi, saya harus gmana? Harus melakukan aksi demo didepan gedung sate? Kata seorang teman yang lain, "Telinga pemkot udah tebal ama yang gituan!!". Perkataan ini pun ada benarnya juga. Jadi, harus bagaimana?

Saya tidak ingin seperti orang-orang yang sibuk aksi turun ke jalan yang sia-sia. aksi yg merugikan dan mengganggu kegiatan masyarakat. Berkoar-koar tapi tidak melakukan tindakan kongkrit. Omdo!! Oleh senior saya selalu ditekankan untuk bertindak kreatif, rapi, dan profesional. Mungkin saya belum mencapai semuanya, tapi saya berusaha untuk menuju kesana. Integritas sangat diperlukan..

Kata seorang teman, "Tipis bedanya integritas dengan formalitas". Di "medan perang" yg sedang saya hadapi ini sangat telihat. Saya mulai bisa membedakan antar orang yang bersungguh-sungguh dengan orang yang sekedar cari muka (politik pencitraan). Semakin kebayang dunia yang akan saya hadapi setelah saya lulus.

Maaf, kebanyakan curhatnya...

salam
ank punk!!
Rencana Salah satu pembicara, dalam dialog melestarikan cagar budaya dari budaya itu sendiri, di pendopo Nol kilometer. Dan pembicara /pendengar lain Pemerintah (gubernur/ wakil gubernur, walikot/wakil, dinas parawisata, PHRI, media.)
Dan kita semua yang peduli dengan kota ini. Mudah mudahan pertanyaan yang selama ini bisa terjawabkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar