Selasa, 27 Januari 2009
maung
MAKNA DIBALIK SIMBOL "MAUNG"
Berbicara mengenai harimau yang dalam bahasa Sunda disebut "Maung,
Lodaya, dan Sancang", tidak terlepas dari konteks keperkasaan dan
kepahlawanan. Silihwangi gelar kebesaran raja Pajajaran, bagi orang
sunda merupakan karuhun yang menjadi panutan, pun dilambangkan dengan
maung. Tidak hanya itu dalam dunia persilatan di tatar Sunda, maung
menjadi sosok yang paling dominan dibandingkan dengan hewan-hewan
lainnya.
Brigjen Polisi Purnawarman R. Gojali Suriamijaya dan (Alm) Dadang
Ibnu, salah satu pembantu Oto Iskandardinata, dari Sukaraja
menjabarkan, bahwa lambang Galuh adalah harimau kumbang, sedangkan
lambang Pajajaran adalah harimau putih. Di sini yang ditonjolkan bukan
harimaunya, melainkan warnanya, yaitu warnah putih dan kumbang (warna
antara biru dengan hitam). Jadi pola ini menunjukkan hal sama dengan
pola sebelumnya. Orang Pulau Jawa sendiri menyadap kata wyaghra dari
bahasa Sangsakerta yang mengandung arti harimau atau pahlawan. Dalam
Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 1, dikisahkan bahwa
Purnawarman yang selalu unggul dalam peperangan itu dijuluki Wyaghra
Ning Tarumanagara atau Harimau Tarumanagara. Jadi, ada tradisi yang
mengasosiasikan harimau dengan perbuatan kepahlawanan.
Ki Buyut Rambeng dalam lakon Dadap Malang menggunakan sebutan "Maung
Selang" untuk para Senopati Pajajaran. Konon, harimau ini kecil
tetapi terkenal garang (menurut Coolsma, "tijger met zwarte grondkleur
roode strepen" = harimau dengan bulu dasar hitam bergaris merah).
Buat orang Jawa umumnya dan orang Sunda khususnya, kata lain menyebut
harimau dengan Singha, mengapa demikian? Padahal di tanah Jawa tidak
ditemukan hewan ini. Kata singha tidak umum digunakan di tatar Jawa,
diprediksi kata singha ini terpengaruh dari Timur Tengah ketika
masuknya agama Islam ke bumi Nusantara. Pada akhirnya menjadi sebutan
umum untuk harimau, khususnya di tanah Cerbon (kalangan tertentu).
Sebelumnya mari kita tengok ke belakang jauh sebelum agama Islam masuk
ke Nusantara, penggunaan kata singha ini juga dipengaruhi agama Budha.
Patung Harimau peninggalan masa silam belum ditemukan, tetapi agama
Budha memperkenalkan patung singa pengawal seperti tampak di pelataran
Candi Borobudur. Singa adalah lambang Sidharta Gautama yang sebelum
menjalani kehidupan sebagai Budha menjadi pahlawan bangsanya dengan
gelar Ksatria Sakyasimha (singha bangsa Sakya). Dapat disimpulkan
bahwa ternyata makna dari simbol keperkasaan hewan ini yang diambil,
baik itu harimau maupun singha sama-sama memiliki makna keperkasaan.
Ikonografi di Borobudur menampilkan patung singa-pengawal dengan sikap
duduk seragam seperti Spinx dekat Piramida Gizeh di Mesir. Duduk pada
kaki belakang dan bertopang pada kedua kaki depan yang dilipat
menjulur ke depan sambil menegakkan dada. Itulah sikap santai, tenang
dan anggun tetapi penuh kewaspadaan tanpa menampilkan sikap mengancam.
Dengan sikap duduk seperti itu, hewan jenis harimau dan singha dapat
langsung berdiri dengan sekali gerakan lompat.
Masyarakat traditional di Jawa Barat pada tahun 1930-an selalu membuat
tabungan (cengcelengan) berbentuk harimau dengan sikap duduk
sepertisinga- pengawal di Borobudur itu. Hal ini tentu saja diwarisinya
turun-temurun.
Tapi bila kita saksikan bagaimana kisah kepergian Surawisesa atas
perintah ayahnya (Silihwangi) ke Malaka dalam lakon pantun digubah
menjadi kepergian Mundinglaya Dikusuma ke Kahiyangan mencari Lalayang
Salakadomas, dan tokoh Alfonso d'Albuquerque digantikkan posisinya
oleh tokoh Sunan Ambu, dapatlah disimpulkan bahwa kisah-kisah ajaib
seperti itu bernilai simbolik dan menyembunyikan sesuatu
kenyataan.Tidak mungkinkah kisah gaib harimau kumbang dan harimau
putih itu juga melambangkan kaitan historis antara Tarumanagara
(tarum=nila= hitam) dengan Sunda (putih)?.
Terlepas dari itu semua, orang sependapat bahwa harimau menjadi
lambang kepahlawanan dan putih melambangkan kesucian, kemurnian,
kejujuran dan keadilan. Patung harimau putih hanyalah hiasan yang
mudah-mudahan mampu mengingatkan kita apa arti keadilan dan kejujuran
dalam ajaran moralsebagai bagian warga negara Republik Indonesia. "The
Kingdom of Sunda is justly governed" (kata Tome Pires) patut kita
buktikan, minimal di sebagian kecil bekas ibukotanya. Taruma-Sunda
adalah identitas sejarah Bogor. Ciliwung-Cisadane menjadi identitas
topografinya (waruga). Sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya,
Kotamadya Bogor memiliki bendera pengenal yang berwarna tarum dan
putih dengan lambang daerah di tengahnya. Silahkan baca saja bendera
itu dengan Kotamadya Bogor di atas lahan Ciliwung dan Cisadane.
Uraian ini ditambahkan sebagai pelengkap dengan maksud memandang ke
sisi lain tempat orang-orang tua yang bijak merenungkan sesuatu di
luar wujud materi. Manusia modern pernah beranjak terlalu jauh dan
menganggap dirinya berhadapan, bahkan berhak menaklukkan alam. Namun
pengalaman membuktikan bahwa mereka hanya sebagian dari alam itu.
Menaklukkan alam berartimemusnahkan diri sendiri karena lingkungan
hidup itu bukan untuk para penghuninya, melainkan terdiri atas para
penghuninya.
Hana nguni hana mangketan hana nguni tan hana mangkeaya ma beuheula
aya tu ayeunahanteu ma beuheula hanteu tu ayeunahana tunggak hana
watangtan hana tunggak tak hana watanghana ma tunggulnya aya tu
catangnya.
Disarikan dari berbagai sumber & Nyaangan Alam Dunya
Berbicara mengenai harimau yang dalam bahasa Sunda disebut "Maung,
Lodaya, dan Sancang", tidak terlepas dari konteks keperkasaan dan
kepahlawanan. Silihwangi gelar kebesaran raja Pajajaran, bagi orang
sunda merupakan karuhun yang menjadi panutan, pun dilambangkan dengan
maung. Tidak hanya itu dalam dunia persilatan di tatar Sunda, maung
menjadi sosok yang paling dominan dibandingkan dengan hewan-hewan
lainnya.
Brigjen Polisi Purnawarman R. Gojali Suriamijaya dan (Alm) Dadang
Ibnu, salah satu pembantu Oto Iskandardinata, dari Sukaraja
menjabarkan, bahwa lambang Galuh adalah harimau kumbang, sedangkan
lambang Pajajaran adalah harimau putih. Di sini yang ditonjolkan bukan
harimaunya, melainkan warnanya, yaitu warnah putih dan kumbang (warna
antara biru dengan hitam). Jadi pola ini menunjukkan hal sama dengan
pola sebelumnya. Orang Pulau Jawa sendiri menyadap kata wyaghra dari
bahasa Sangsakerta yang mengandung arti harimau atau pahlawan. Dalam
Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 1, dikisahkan bahwa
Purnawarman yang selalu unggul dalam peperangan itu dijuluki Wyaghra
Ning Tarumanagara atau Harimau Tarumanagara. Jadi, ada tradisi yang
mengasosiasikan harimau dengan perbuatan kepahlawanan.
Ki Buyut Rambeng dalam lakon Dadap Malang menggunakan sebutan "Maung
Selang" untuk para Senopati Pajajaran. Konon, harimau ini kecil
tetapi terkenal garang (menurut Coolsma, "tijger met zwarte grondkleur
roode strepen" = harimau dengan bulu dasar hitam bergaris merah).
Buat orang Jawa umumnya dan orang Sunda khususnya, kata lain menyebut
harimau dengan Singha, mengapa demikian? Padahal di tanah Jawa tidak
ditemukan hewan ini. Kata singha tidak umum digunakan di tatar Jawa,
diprediksi kata singha ini terpengaruh dari Timur Tengah ketika
masuknya agama Islam ke bumi Nusantara. Pada akhirnya menjadi sebutan
umum untuk harimau, khususnya di tanah Cerbon (kalangan tertentu).
Sebelumnya mari kita tengok ke belakang jauh sebelum agama Islam masuk
ke Nusantara, penggunaan kata singha ini juga dipengaruhi agama Budha.
Patung Harimau peninggalan masa silam belum ditemukan, tetapi agama
Budha memperkenalkan patung singa pengawal seperti tampak di pelataran
Candi Borobudur. Singa adalah lambang Sidharta Gautama yang sebelum
menjalani kehidupan sebagai Budha menjadi pahlawan bangsanya dengan
gelar Ksatria Sakyasimha (singha bangsa Sakya). Dapat disimpulkan
bahwa ternyata makna dari simbol keperkasaan hewan ini yang diambil,
baik itu harimau maupun singha sama-sama memiliki makna keperkasaan.
Ikonografi di Borobudur menampilkan patung singa-pengawal dengan sikap
duduk seragam seperti Spinx dekat Piramida Gizeh di Mesir. Duduk pada
kaki belakang dan bertopang pada kedua kaki depan yang dilipat
menjulur ke depan sambil menegakkan dada. Itulah sikap santai, tenang
dan anggun tetapi penuh kewaspadaan tanpa menampilkan sikap mengancam.
Dengan sikap duduk seperti itu, hewan jenis harimau dan singha dapat
langsung berdiri dengan sekali gerakan lompat.
Masyarakat traditional di Jawa Barat pada tahun 1930-an selalu membuat
tabungan (cengcelengan) berbentuk harimau dengan sikap duduk
sepertisinga- pengawal di Borobudur itu. Hal ini tentu saja diwarisinya
turun-temurun.
Tapi bila kita saksikan bagaimana kisah kepergian Surawisesa atas
perintah ayahnya (Silihwangi) ke Malaka dalam lakon pantun digubah
menjadi kepergian Mundinglaya Dikusuma ke Kahiyangan mencari Lalayang
Salakadomas, dan tokoh Alfonso d'Albuquerque digantikkan posisinya
oleh tokoh Sunan Ambu, dapatlah disimpulkan bahwa kisah-kisah ajaib
seperti itu bernilai simbolik dan menyembunyikan sesuatu
kenyataan.Tidak mungkinkah kisah gaib harimau kumbang dan harimau
putih itu juga melambangkan kaitan historis antara Tarumanagara
(tarum=nila= hitam) dengan Sunda (putih)?.
Terlepas dari itu semua, orang sependapat bahwa harimau menjadi
lambang kepahlawanan dan putih melambangkan kesucian, kemurnian,
kejujuran dan keadilan. Patung harimau putih hanyalah hiasan yang
mudah-mudahan mampu mengingatkan kita apa arti keadilan dan kejujuran
dalam ajaran moralsebagai bagian warga negara Republik Indonesia. "The
Kingdom of Sunda is justly governed" (kata Tome Pires) patut kita
buktikan, minimal di sebagian kecil bekas ibukotanya. Taruma-Sunda
adalah identitas sejarah Bogor. Ciliwung-Cisadane menjadi identitas
topografinya (waruga). Sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya,
Kotamadya Bogor memiliki bendera pengenal yang berwarna tarum dan
putih dengan lambang daerah di tengahnya. Silahkan baca saja bendera
itu dengan Kotamadya Bogor di atas lahan Ciliwung dan Cisadane.
Uraian ini ditambahkan sebagai pelengkap dengan maksud memandang ke
sisi lain tempat orang-orang tua yang bijak merenungkan sesuatu di
luar wujud materi. Manusia modern pernah beranjak terlalu jauh dan
menganggap dirinya berhadapan, bahkan berhak menaklukkan alam. Namun
pengalaman membuktikan bahwa mereka hanya sebagian dari alam itu.
Menaklukkan alam berartimemusnahkan diri sendiri karena lingkungan
hidup itu bukan untuk para penghuninya, melainkan terdiri atas para
penghuninya.
Hana nguni hana mangketan hana nguni tan hana mangkeaya ma beuheula
aya tu ayeunahanteu ma beuheula hanteu tu ayeunahana tunggak hana
watangtan hana tunggak tak hana watanghana ma tunggulnya aya tu
catangnya.
Disarikan dari berbagai sumber & Nyaangan Alam Dunya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)














Tidak ada komentar:
Posting Komentar