Selasa, 27 Januari 2009
maung
MAKNA DIBALIK SIMBOL "MAUNG"
Berbicara mengenai harimau yang dalam bahasa Sunda disebut "Maung,
Lodaya, dan Sancang", tidak terlepas dari konteks keperkasaan dan
kepahlawanan. Silihwangi gelar kebesaran raja Pajajaran, bagi orang
sunda merupakan karuhun yang menjadi panutan, pun dilambangkan dengan
maung. Tidak hanya itu dalam dunia persilatan di tatar Sunda, maung
menjadi sosok yang paling dominan dibandingkan dengan hewan-hewan
lainnya.
Brigjen Polisi Purnawarman R. Gojali Suriamijaya dan (Alm) Dadang
Ibnu, salah satu pembantu Oto Iskandardinata, dari Sukaraja
menjabarkan, bahwa lambang Galuh adalah harimau kumbang, sedangkan
lambang Pajajaran adalah harimau putih. Di sini yang ditonjolkan bukan
harimaunya, melainkan warnanya, yaitu warnah putih dan kumbang (warna
antara biru dengan hitam). Jadi pola ini menunjukkan hal sama dengan
pola sebelumnya. Orang Pulau Jawa sendiri menyadap kata wyaghra dari
bahasa Sangsakerta yang mengandung arti harimau atau pahlawan. Dalam
Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 1, dikisahkan bahwa
Purnawarman yang selalu unggul dalam peperangan itu dijuluki Wyaghra
Ning Tarumanagara atau Harimau Tarumanagara. Jadi, ada tradisi yang
mengasosiasikan harimau dengan perbuatan kepahlawanan.
Ki Buyut Rambeng dalam lakon Dadap Malang menggunakan sebutan "Maung
Selang" untuk para Senopati Pajajaran. Konon, harimau ini kecil
tetapi terkenal garang (menurut Coolsma, "tijger met zwarte grondkleur
roode strepen" = harimau dengan bulu dasar hitam bergaris merah).
Buat orang Jawa umumnya dan orang Sunda khususnya, kata lain menyebut
harimau dengan Singha, mengapa demikian? Padahal di tanah Jawa tidak
ditemukan hewan ini. Kata singha tidak umum digunakan di tatar Jawa,
diprediksi kata singha ini terpengaruh dari Timur Tengah ketika
masuknya agama Islam ke bumi Nusantara. Pada akhirnya menjadi sebutan
umum untuk harimau, khususnya di tanah Cerbon (kalangan tertentu).
Sebelumnya mari kita tengok ke belakang jauh sebelum agama Islam masuk
ke Nusantara, penggunaan kata singha ini juga dipengaruhi agama Budha.
Patung Harimau peninggalan masa silam belum ditemukan, tetapi agama
Budha memperkenalkan patung singa pengawal seperti tampak di pelataran
Candi Borobudur. Singa adalah lambang Sidharta Gautama yang sebelum
menjalani kehidupan sebagai Budha menjadi pahlawan bangsanya dengan
gelar Ksatria Sakyasimha (singha bangsa Sakya). Dapat disimpulkan
bahwa ternyata makna dari simbol keperkasaan hewan ini yang diambil,
baik itu harimau maupun singha sama-sama memiliki makna keperkasaan.
Ikonografi di Borobudur menampilkan patung singa-pengawal dengan sikap
duduk seragam seperti Spinx dekat Piramida Gizeh di Mesir. Duduk pada
kaki belakang dan bertopang pada kedua kaki depan yang dilipat
menjulur ke depan sambil menegakkan dada. Itulah sikap santai, tenang
dan anggun tetapi penuh kewaspadaan tanpa menampilkan sikap mengancam.
Dengan sikap duduk seperti itu, hewan jenis harimau dan singha dapat
langsung berdiri dengan sekali gerakan lompat.
Masyarakat traditional di Jawa Barat pada tahun 1930-an selalu membuat
tabungan (cengcelengan) berbentuk harimau dengan sikap duduk
sepertisinga- pengawal di Borobudur itu. Hal ini tentu saja diwarisinya
turun-temurun.
Tapi bila kita saksikan bagaimana kisah kepergian Surawisesa atas
perintah ayahnya (Silihwangi) ke Malaka dalam lakon pantun digubah
menjadi kepergian Mundinglaya Dikusuma ke Kahiyangan mencari Lalayang
Salakadomas, dan tokoh Alfonso d'Albuquerque digantikkan posisinya
oleh tokoh Sunan Ambu, dapatlah disimpulkan bahwa kisah-kisah ajaib
seperti itu bernilai simbolik dan menyembunyikan sesuatu
kenyataan.Tidak mungkinkah kisah gaib harimau kumbang dan harimau
putih itu juga melambangkan kaitan historis antara Tarumanagara
(tarum=nila= hitam) dengan Sunda (putih)?.
Terlepas dari itu semua, orang sependapat bahwa harimau menjadi
lambang kepahlawanan dan putih melambangkan kesucian, kemurnian,
kejujuran dan keadilan. Patung harimau putih hanyalah hiasan yang
mudah-mudahan mampu mengingatkan kita apa arti keadilan dan kejujuran
dalam ajaran moralsebagai bagian warga negara Republik Indonesia. "The
Kingdom of Sunda is justly governed" (kata Tome Pires) patut kita
buktikan, minimal di sebagian kecil bekas ibukotanya. Taruma-Sunda
adalah identitas sejarah Bogor. Ciliwung-Cisadane menjadi identitas
topografinya (waruga). Sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya,
Kotamadya Bogor memiliki bendera pengenal yang berwarna tarum dan
putih dengan lambang daerah di tengahnya. Silahkan baca saja bendera
itu dengan Kotamadya Bogor di atas lahan Ciliwung dan Cisadane.
Uraian ini ditambahkan sebagai pelengkap dengan maksud memandang ke
sisi lain tempat orang-orang tua yang bijak merenungkan sesuatu di
luar wujud materi. Manusia modern pernah beranjak terlalu jauh dan
menganggap dirinya berhadapan, bahkan berhak menaklukkan alam. Namun
pengalaman membuktikan bahwa mereka hanya sebagian dari alam itu.
Menaklukkan alam berartimemusnahkan diri sendiri karena lingkungan
hidup itu bukan untuk para penghuninya, melainkan terdiri atas para
penghuninya.
Hana nguni hana mangketan hana nguni tan hana mangkeaya ma beuheula
aya tu ayeunahanteu ma beuheula hanteu tu ayeunahana tunggak hana
watangtan hana tunggak tak hana watanghana ma tunggulnya aya tu
catangnya.
Disarikan dari berbagai sumber & Nyaangan Alam Dunya
Berbicara mengenai harimau yang dalam bahasa Sunda disebut "Maung,
Lodaya, dan Sancang", tidak terlepas dari konteks keperkasaan dan
kepahlawanan. Silihwangi gelar kebesaran raja Pajajaran, bagi orang
sunda merupakan karuhun yang menjadi panutan, pun dilambangkan dengan
maung. Tidak hanya itu dalam dunia persilatan di tatar Sunda, maung
menjadi sosok yang paling dominan dibandingkan dengan hewan-hewan
lainnya.
Brigjen Polisi Purnawarman R. Gojali Suriamijaya dan (Alm) Dadang
Ibnu, salah satu pembantu Oto Iskandardinata, dari Sukaraja
menjabarkan, bahwa lambang Galuh adalah harimau kumbang, sedangkan
lambang Pajajaran adalah harimau putih. Di sini yang ditonjolkan bukan
harimaunya, melainkan warnanya, yaitu warnah putih dan kumbang (warna
antara biru dengan hitam). Jadi pola ini menunjukkan hal sama dengan
pola sebelumnya. Orang Pulau Jawa sendiri menyadap kata wyaghra dari
bahasa Sangsakerta yang mengandung arti harimau atau pahlawan. Dalam
Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 1, dikisahkan bahwa
Purnawarman yang selalu unggul dalam peperangan itu dijuluki Wyaghra
Ning Tarumanagara atau Harimau Tarumanagara. Jadi, ada tradisi yang
mengasosiasikan harimau dengan perbuatan kepahlawanan.
Ki Buyut Rambeng dalam lakon Dadap Malang menggunakan sebutan "Maung
Selang" untuk para Senopati Pajajaran. Konon, harimau ini kecil
tetapi terkenal garang (menurut Coolsma, "tijger met zwarte grondkleur
roode strepen" = harimau dengan bulu dasar hitam bergaris merah).
Buat orang Jawa umumnya dan orang Sunda khususnya, kata lain menyebut
harimau dengan Singha, mengapa demikian? Padahal di tanah Jawa tidak
ditemukan hewan ini. Kata singha tidak umum digunakan di tatar Jawa,
diprediksi kata singha ini terpengaruh dari Timur Tengah ketika
masuknya agama Islam ke bumi Nusantara. Pada akhirnya menjadi sebutan
umum untuk harimau, khususnya di tanah Cerbon (kalangan tertentu).
Sebelumnya mari kita tengok ke belakang jauh sebelum agama Islam masuk
ke Nusantara, penggunaan kata singha ini juga dipengaruhi agama Budha.
Patung Harimau peninggalan masa silam belum ditemukan, tetapi agama
Budha memperkenalkan patung singa pengawal seperti tampak di pelataran
Candi Borobudur. Singa adalah lambang Sidharta Gautama yang sebelum
menjalani kehidupan sebagai Budha menjadi pahlawan bangsanya dengan
gelar Ksatria Sakyasimha (singha bangsa Sakya). Dapat disimpulkan
bahwa ternyata makna dari simbol keperkasaan hewan ini yang diambil,
baik itu harimau maupun singha sama-sama memiliki makna keperkasaan.
Ikonografi di Borobudur menampilkan patung singa-pengawal dengan sikap
duduk seragam seperti Spinx dekat Piramida Gizeh di Mesir. Duduk pada
kaki belakang dan bertopang pada kedua kaki depan yang dilipat
menjulur ke depan sambil menegakkan dada. Itulah sikap santai, tenang
dan anggun tetapi penuh kewaspadaan tanpa menampilkan sikap mengancam.
Dengan sikap duduk seperti itu, hewan jenis harimau dan singha dapat
langsung berdiri dengan sekali gerakan lompat.
Masyarakat traditional di Jawa Barat pada tahun 1930-an selalu membuat
tabungan (cengcelengan) berbentuk harimau dengan sikap duduk
sepertisinga- pengawal di Borobudur itu. Hal ini tentu saja diwarisinya
turun-temurun.
Tapi bila kita saksikan bagaimana kisah kepergian Surawisesa atas
perintah ayahnya (Silihwangi) ke Malaka dalam lakon pantun digubah
menjadi kepergian Mundinglaya Dikusuma ke Kahiyangan mencari Lalayang
Salakadomas, dan tokoh Alfonso d'Albuquerque digantikkan posisinya
oleh tokoh Sunan Ambu, dapatlah disimpulkan bahwa kisah-kisah ajaib
seperti itu bernilai simbolik dan menyembunyikan sesuatu
kenyataan.Tidak mungkinkah kisah gaib harimau kumbang dan harimau
putih itu juga melambangkan kaitan historis antara Tarumanagara
(tarum=nila= hitam) dengan Sunda (putih)?.
Terlepas dari itu semua, orang sependapat bahwa harimau menjadi
lambang kepahlawanan dan putih melambangkan kesucian, kemurnian,
kejujuran dan keadilan. Patung harimau putih hanyalah hiasan yang
mudah-mudahan mampu mengingatkan kita apa arti keadilan dan kejujuran
dalam ajaran moralsebagai bagian warga negara Republik Indonesia. "The
Kingdom of Sunda is justly governed" (kata Tome Pires) patut kita
buktikan, minimal di sebagian kecil bekas ibukotanya. Taruma-Sunda
adalah identitas sejarah Bogor. Ciliwung-Cisadane menjadi identitas
topografinya (waruga). Sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya,
Kotamadya Bogor memiliki bendera pengenal yang berwarna tarum dan
putih dengan lambang daerah di tengahnya. Silahkan baca saja bendera
itu dengan Kotamadya Bogor di atas lahan Ciliwung dan Cisadane.
Uraian ini ditambahkan sebagai pelengkap dengan maksud memandang ke
sisi lain tempat orang-orang tua yang bijak merenungkan sesuatu di
luar wujud materi. Manusia modern pernah beranjak terlalu jauh dan
menganggap dirinya berhadapan, bahkan berhak menaklukkan alam. Namun
pengalaman membuktikan bahwa mereka hanya sebagian dari alam itu.
Menaklukkan alam berartimemusnahkan diri sendiri karena lingkungan
hidup itu bukan untuk para penghuninya, melainkan terdiri atas para
penghuninya.
Hana nguni hana mangketan hana nguni tan hana mangkeaya ma beuheula
aya tu ayeunahanteu ma beuheula hanteu tu ayeunahana tunggak hana
watangtan hana tunggak tak hana watanghana ma tunggulnya aya tu
catangnya.
Disarikan dari berbagai sumber & Nyaangan Alam Dunya
Senin, 26 Januari 2009
letak pendopo Nol kilometer di depan sebelah kiri

Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika Nomor 65 Bandung ini dibangun pada 1895 sebagai tempat pertemuan bagi orang-orang Eropa, terutama yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Kebanyakan dari mereka yang memiliki perkebunan teh dan Belanda officers.They membentuk masyarakat yang dikenal sebagai Societeit Concordia pada 29 Juni 1879. Tujuan dari masyarakat adalah "... ... bevordering de van gezellig verkeer".
Sebagai tempat pertemuan pertama pada mereka yang digunakan untuk mengumpulkan beberapa teh di Warung De Vries.Afterwards, (1895) mereka pindah ke sebuah bangunan di seberang Warung De Vries, named Concordia yang berlangsung 7,983 meter persegi. Pada tahun, bangunan itu sederhana, yang satu dinding yang terbuat dari kayu dan dari sumber cahaya pada malam hari hanya lanterns.The bensin bangunan yang terletak di sudut "Groote Postweg" (sekarang Jalan Asia Afrika) dan " Bragaweg "(sekarang Jalan Braga). Sayap kiri-nya adalah sebelah Tjikapoendoeng Sungai (Cikapundung) yang sangat nyaman karena banyak tumbuh pepohonan tebal.
Minggu, 25 Januari 2009
tentang babakan siliwangi
di ambil dari http://www.km.itb.ac.id
Keluarga Mahasiswa ITB
Babakan Siliwangi : Kecolongan!
Written by nanta
Monday, 26 January 2009 04:19
Kita kecolongan!! Kita disini dalam artian orang-orang yang berkomitmen dan konsisten dalam menjaga kawasan Babakan Siliwangi. Saya pribadi telah ditipu oleh orang yang mengaku sebagai orang yang bergerak di bidang penghijauan dengan sukarela. Orang yang mengatasnamakan suatu perguruan pencak silat ini pada awalnya melakukan penghijauan di Babakan Siliwangi. Tahap awal yang dilakukannya adalah membersihkan tanaman-tanaman liar. Setelah di bersihkan dibuat lobang untuk ditanam. Lobang yang sudah digali tidak langsung ditanam, harus dibiarkan selama 1 bulan dulu.
Pada saat sidang amdal, pihak pengembang mengatakan sudah melakukan penghijauan. Mereka memperlihatkan bukti-bukti berupa foto. Terus terang saya kaget saat melihat foto-foto tersebut. Foto yg dipaparkan adalah lahan-lahan yang ditanam oleh relawan yang sudah saya kenal sebelumnya. Saya beserta 2 teman berfikir dua hal. Bisa jadi si relawan dan pihak pengembang sudah bekerja sama sebelumnya atau pihak pengembang cuma mengklaim. Dari analisis yang saya lakukan lebih condong ke si relawan sudah bekerja sama. karena posisi lobang sesuai dengan gambar rancangannya. "Berarti saya sudah ketipu" kata saya dalam hati.
Area penghijauan hampir mencakup semua lahan babakan siliwangi. Mulai dari pinggiran sungai sampai tempat yang biasanya menjadi lahan parkir anak ITB yang kini sudah ditutup oleh Sarpras ITB.
Saya berfikir, ini sudah kecolongan sangat jauh. Mulai dari penandaan pohon-pohon sampai penghijauan. Bagi saya ini sebuah pelanggaran. Pengembang dengan menggunakan alibi sebagai penghijauan sudah mulai tahap pembangunan. Anggap saja penanaman ini sebagai langkah awalnya dan posisi tanamannya pun sesuai dengan rancangan. Harusnya ini
dilakukan kalau izin mendirikan bangunan (IMB) sudah keluar. Mungkin jurusan Planologi lebih mengerti tentang hal ini.
Kata seorang teman, di dunia "persilatannya" hal ini biasa terjadi. Saling mengklaim sudah menjadi cara yg paling gampang. Saya pribadi belum bisa mewaspadai kejadian seperti ini. Seperti inilah dunia politik yg harus saya hadapi. Dunia yg masih baru bagi saya. Sempat solusi terfikirkan, yaitu lewat jalur hukum. Kata seorang teman, "hukum bisa dibeli boy!!" saya lupa kalau saya berada di negara Indonesia yang kalau kata orang "ada uang semua beres". Mungkin
perkataan teman saya ada benarnya juga. Jadi, saya harus gmana? Harus melakukan aksi demo didepan gedung sate? Kata seorang teman yang lain, "Telinga pemkot udah tebal ama yang gituan!!". Perkataan ini pun ada benarnya juga. Jadi, harus bagaimana?
Saya tidak ingin seperti orang-orang yang sibuk aksi turun ke jalan yang sia-sia. aksi yg merugikan dan mengganggu kegiatan masyarakat. Berkoar-koar tapi tidak melakukan tindakan kongkrit. Omdo!! Oleh senior saya selalu ditekankan untuk bertindak kreatif, rapi, dan profesional. Mungkin saya belum mencapai semuanya, tapi saya berusaha untuk menuju kesana. Integritas sangat diperlukan..
Kata seorang teman, "Tipis bedanya integritas dengan formalitas". Di "medan perang" yg sedang saya hadapi ini sangat telihat. Saya mulai bisa membedakan antar orang yang bersungguh-sungguh dengan orang yang sekedar cari muka (politik pencitraan). Semakin kebayang dunia yang akan saya hadapi setelah saya lulus.
Maaf, kebanyakan curhatnya...
salam
ank punk!!
Rencana Salah satu pembicara, dalam dialog melestarikan cagar budaya dari budaya itu sendiri, di pendopo Nol kilometer. Dan pembicara /pendengar lain Pemerintah (gubernur/ wakil gubernur, walikot/wakil, dinas parawisata, PHRI, media.)
Dan kita semua yang peduli dengan kota ini. Mudah mudahan pertanyaan yang selama ini bisa terjawabkan.
Keluarga Mahasiswa ITB
Babakan Siliwangi : Kecolongan!
Written by nanta
Monday, 26 January 2009 04:19
Kita kecolongan!! Kita disini dalam artian orang-orang yang berkomitmen dan konsisten dalam menjaga kawasan Babakan Siliwangi. Saya pribadi telah ditipu oleh orang yang mengaku sebagai orang yang bergerak di bidang penghijauan dengan sukarela. Orang yang mengatasnamakan suatu perguruan pencak silat ini pada awalnya melakukan penghijauan di Babakan Siliwangi. Tahap awal yang dilakukannya adalah membersihkan tanaman-tanaman liar. Setelah di bersihkan dibuat lobang untuk ditanam. Lobang yang sudah digali tidak langsung ditanam, harus dibiarkan selama 1 bulan dulu.
Pada saat sidang amdal, pihak pengembang mengatakan sudah melakukan penghijauan. Mereka memperlihatkan bukti-bukti berupa foto. Terus terang saya kaget saat melihat foto-foto tersebut. Foto yg dipaparkan adalah lahan-lahan yang ditanam oleh relawan yang sudah saya kenal sebelumnya. Saya beserta 2 teman berfikir dua hal. Bisa jadi si relawan dan pihak pengembang sudah bekerja sama sebelumnya atau pihak pengembang cuma mengklaim. Dari analisis yang saya lakukan lebih condong ke si relawan sudah bekerja sama. karena posisi lobang sesuai dengan gambar rancangannya. "Berarti saya sudah ketipu" kata saya dalam hati.
Area penghijauan hampir mencakup semua lahan babakan siliwangi. Mulai dari pinggiran sungai sampai tempat yang biasanya menjadi lahan parkir anak ITB yang kini sudah ditutup oleh Sarpras ITB.
Saya berfikir, ini sudah kecolongan sangat jauh. Mulai dari penandaan pohon-pohon sampai penghijauan. Bagi saya ini sebuah pelanggaran. Pengembang dengan menggunakan alibi sebagai penghijauan sudah mulai tahap pembangunan. Anggap saja penanaman ini sebagai langkah awalnya dan posisi tanamannya pun sesuai dengan rancangan. Harusnya ini
dilakukan kalau izin mendirikan bangunan (IMB) sudah keluar. Mungkin jurusan Planologi lebih mengerti tentang hal ini.
Kata seorang teman, di dunia "persilatannya" hal ini biasa terjadi. Saling mengklaim sudah menjadi cara yg paling gampang. Saya pribadi belum bisa mewaspadai kejadian seperti ini. Seperti inilah dunia politik yg harus saya hadapi. Dunia yg masih baru bagi saya. Sempat solusi terfikirkan, yaitu lewat jalur hukum. Kata seorang teman, "hukum bisa dibeli boy!!" saya lupa kalau saya berada di negara Indonesia yang kalau kata orang "ada uang semua beres". Mungkin
perkataan teman saya ada benarnya juga. Jadi, saya harus gmana? Harus melakukan aksi demo didepan gedung sate? Kata seorang teman yang lain, "Telinga pemkot udah tebal ama yang gituan!!". Perkataan ini pun ada benarnya juga. Jadi, harus bagaimana?
Saya tidak ingin seperti orang-orang yang sibuk aksi turun ke jalan yang sia-sia. aksi yg merugikan dan mengganggu kegiatan masyarakat. Berkoar-koar tapi tidak melakukan tindakan kongkrit. Omdo!! Oleh senior saya selalu ditekankan untuk bertindak kreatif, rapi, dan profesional. Mungkin saya belum mencapai semuanya, tapi saya berusaha untuk menuju kesana. Integritas sangat diperlukan..
Kata seorang teman, "Tipis bedanya integritas dengan formalitas". Di "medan perang" yg sedang saya hadapi ini sangat telihat. Saya mulai bisa membedakan antar orang yang bersungguh-sungguh dengan orang yang sekedar cari muka (politik pencitraan). Semakin kebayang dunia yang akan saya hadapi setelah saya lulus.
Maaf, kebanyakan curhatnya...
salam
ank punk!!
Rencana Salah satu pembicara, dalam dialog melestarikan cagar budaya dari budaya itu sendiri, di pendopo Nol kilometer. Dan pembicara /pendengar lain Pemerintah (gubernur/ wakil gubernur, walikot/wakil, dinas parawisata, PHRI, media.)
Dan kita semua yang peduli dengan kota ini. Mudah mudahan pertanyaan yang selama ini bisa terjawabkan.
rencana agenda 2009 pendopo Nol kilometer maret
pembahasan
YA dan TIDAK
Bagian 3. PERTENTANGAN
Pada Matematika dan Ilmu Alam rendahan, ya dan tidak itu tak langsung
berupa pertentangan yang terang, melainkan mula-mula berupa timbul
atau hilang. Baru pada kedua perkataan timbul dan hilang ini (weden
und vergehen) kata Engels, dia berupa pertentangan. Tetapi pada Ilmu
Masyarakat berdasarkan Komunisme, ya dan tidak itu langsung dan nyata
berdasarkan pertentangan.
Pencaharian Arab di daerah tempat saya menulis Madilog ini, yakni
daerah Jakarta, terutama sekali memperbungakan uang umum dipasar-pasar
dipinjamkan Arab pada Indonesia R 1,- dengan bunga 5 sen sehari.
Berupa kecil, tetapi menurut perhitungan Matematika bunga semacam itu
dan 1,825% setahun. Ini menurut Logika, menurut hitungan bunga
berbunga pula (samengestelde interest). Dengan kerja semacam itu dari
turunan keterurunan, mereka menjadi kaya, ada kaya raya mempunyai
tanah dan rumah. Tentulah bukan satu kali hal yang kita tuliskan
dibawah ini sebagai contoh, yang terjadi semenjak bangsa ini
meninggalkan Tanah Suci dan mencemarkan kaki pada tanah kita yang
dianggap tidak suci ini.
Sebagai misal: Seorang tuan tanah Arab, kita namakan saja Halal bin
Fulus, sudah lama meminjamkan uang pada seorang petani Indonesia.
Petani menanggungkan tanah dan rumahnya atas pinjaman itu. Dia tak
bisa melunaskan hutangnya, sebaliknya membeli makanan dan pakaian dan
membayar pajak pada pemertintah Belanda saja, sebetulnya tak bisa
ditutup dengan hasil tanahnya yang sebidang kecil itu. Keperluan luar
biasa pada umat Islam, seperti menyunat dan mengawinkan anak dan
merayakan Hari Besar Islam, Lebaran, menuntut ongkos luar biasa yang
bagaimana juga rajinnya dia bekerja tak bisa dipenuhi lagi. Terpaksa
ia meminjam uang lagi kepada tuan Halal bin Fulus dari Tanah Suci yang
seagama dengan dia. Melunaskan hutang dan bunganya yang makin lama
bertambah-tambah itu. Tuan Halal bin Fulus tahu pula akan sifatnya
petani Indonesia, het zachte volk der aarde, itu bangsa yang
semanis-manisnya. Gula Arabpun manis, dan tuan Fulus tak keberatan
melebihi harga tanggungan. Tetapi pada satu ketika harga tanah
pekarangan dan rumah petani sampai menjadi kurang atau hampir saja
dengan hutang bunganya. Disini tuan Fulus baru sekarang petani ada
semacam tikus di dalam cengkeraman kucing. Seagama atau tidak, dengan
manis atau suara keras, namun hutang mesti dibayar.
Kalau kebetulan petani ada mempunyai anak perawan yang cocok sama
perasaan tuan Fulus, suka atau tak suka si perawan, karena petani
kebuntuan jalan, perkara hutang mungkin dihabiskan dengan perdamaian
diantara tuan Fulus dengan petani Indonesia berdua saja. Tetapi kalau
petani kebetulan punya anak bujang saja, atau kalau ada perawan yang
cantik tetapi jika si ayah meskipun kemauan anaknya yang tak mau
dikawinkan dengan tuan Fulus yang sudah tua dan beberapa kali kawin
itu, maka disini timbullah percekcokan. Tuan Halal bin Fulus kita
andaikan marah dan pergi mengadu ke Pengadilan.
Perkara diperiksa. Kalau perlu tuan Fulus mencari advokad yang pintar;
arief bisaksana, yang tentu akan berusaha keras, menurut nilai
pembayarannya. Dalam 99 diantara 100 perkara semacam itu, tentulah
tuan Halal bin Fulus berasal dari tanah Suci, yang menang. Petani yang
tak kuasa membeli beras atau sehelai pakaian buat anak bini masa
Lebaran, kalau tak meminjam lebih dahulu pada tuan Fulus, manakah bisa
bayar advokat. Pengadilan umpamanya memutuskan, bahwa si-tani mesti
menjual tanah, pekarangan, rumah dan perabotan kalau ada; sapi atau
ayampun kalau ada, buat membayar hutangnya.
Sedikit kepanjangan buat contoh, tetapi kependekan buat hal yang
banyak sekali terjadi di pulau Jawa dan penting buat kehidupan orang
Indonesia. Sekarang kita bertanya : Adilkah putusan Hakim Pengadilan
tadi? Inilah salah satu dari pertanyaan yang tiada boleh dijawab
dengan ya, dan tidak saja. Karena pertanyaan itu berkenaan dengan
perkara yang berhubungan dengan masyarakat yang bertentangan diantara:
Yang berpunya dengan Tak berpunya.
Tuan Fulus Muslimin yang Berpunya, sebagian besar dari kaum Ulama dan
Pemerintah berdasar “kepunyaan sendiri”, tentulah 100% membenarkan
putusan itu. Petani berhutang dan hutang mesti dibayar. Ini cocok
dengan semua Undang kemodalan dan cocok dengan semua Agama.
Sebaliknya filsafat kaum Tak Berpunya atau Undang kaum Tak berpunya
(dimana kaum Tak berpunya menguasai Negara) 100 % pula akan memutuskan
bahwa putusan Hakim “tidak” adil.
Kalau penulis ini umpamanya berkuasa mengambil putusan, maka penulis
akan menyuruh pilih saja satu dari dua putusan. Pertama, karena tuan
Halal bin Fulus bukan bangsa Indonesia, supaya pulang kembali ke Tanah
Suci denga diizinkan membawa sekedarnya dari harta bendanya, atau
kedua: boleh tinggal disini, tetapi mesti mengembalikan semua hartanya
pada Negara Indonesia. Dalam hal kedua dia lebih dahulu mesti
dijadikan “manusia yang berguna buat masyarakat Indonesia”, yaitu
dengan menukar dia sebagai paraciet, shylock, lintah-darat, menjadi
“pekerja” sekurangnya 13 tahun. Sesudah itu baru boleh diterima
menjadi penduduk yang sama haknya dnegan “pekerja” yang lain-lain.
Pendeknya dalam perkara diantara dua pokok yang bertentangan, kita
tidak bisa menjawab dengan ya atau tidak (benar atau salah, adil atau
dhalim), sebelum kita mengambil pendirian, mengambil penjuru dari mana
kita mesti memandang, point of view. Apa yang dipandang adil dari satu
pihak, berarti tak adil dipandang dari pihak yang lain, dan
sebaliknya. Sebab itu kita mesti lebih dahulu berpihak pada yang lain,
atau sebaliknya inilah artinya menentukan POINT OF VIEW. Dari salah
satu sudut barulah kita bisa memandang dan memutuskan ya atau tidak.
yang saya ambil
http://id.wikisource.org/wiki/Madilog/Bab5
saya berpikir saat ini lah waktu nya bagi kita untuk bersama sama
bergerak bersama sama untuk memilah mana yang racun mana yang obat..
ini seperti sungguh harus bener bener ber hati hati kita meliat nya
dalam kaca wilayah di indonesia ini, klo saya pikir tempat tinggal
penulis tidak mewakili antropoli dan sosiologi wilayah dari nusantara
cara pemakain bahasa yg terlalu subyektif, sudah hilangkah akal
berfikir kita. atau duri dalam tulang kah yang selama ini melumpuhkan
kaki dan membutakan mata serta memekan telinga kita. sehingga kita
sudah tak dapat lagi memisahkan mana racun dan mana obat selama itu
juga kita menunggu satu persatu tubuh kita terpisahkan serti nya kusta
telah mengerogi suatu penyakit yang membinasa kan suatu kaum pada
jaman nabi dan rasul. baik dan buruk setiap manusia pasti memiliki.
dengan itu lah manusia hidup seperti ya dan tidak, tapi ada rasa lain
dalam hidup dan ke hidupan ini seperti senang sedih suka dan duka
senantiasa klo di urai satu persatu pola yang melingkari kehidupan itu
sendiri tiada yang terliat hanya terang. sesekali seberkas warna hijau
di sudut mata. jangan samapai kita memilih mupakat untuk tidak mufakat
YA dan TIDAK
Bagian 3. PERTENTANGAN
Pada Matematika dan Ilmu Alam rendahan, ya dan tidak itu tak langsung
berupa pertentangan yang terang, melainkan mula-mula berupa timbul
atau hilang. Baru pada kedua perkataan timbul dan hilang ini (weden
und vergehen) kata Engels, dia berupa pertentangan. Tetapi pada Ilmu
Masyarakat berdasarkan Komunisme, ya dan tidak itu langsung dan nyata
berdasarkan pertentangan.
Pencaharian Arab di daerah tempat saya menulis Madilog ini, yakni
daerah Jakarta, terutama sekali memperbungakan uang umum dipasar-pasar
dipinjamkan Arab pada Indonesia R 1,- dengan bunga 5 sen sehari.
Berupa kecil, tetapi menurut perhitungan Matematika bunga semacam itu
dan 1,825% setahun. Ini menurut Logika, menurut hitungan bunga
berbunga pula (samengestelde interest). Dengan kerja semacam itu dari
turunan keterurunan, mereka menjadi kaya, ada kaya raya mempunyai
tanah dan rumah. Tentulah bukan satu kali hal yang kita tuliskan
dibawah ini sebagai contoh, yang terjadi semenjak bangsa ini
meninggalkan Tanah Suci dan mencemarkan kaki pada tanah kita yang
dianggap tidak suci ini.
Sebagai misal: Seorang tuan tanah Arab, kita namakan saja Halal bin
Fulus, sudah lama meminjamkan uang pada seorang petani Indonesia.
Petani menanggungkan tanah dan rumahnya atas pinjaman itu. Dia tak
bisa melunaskan hutangnya, sebaliknya membeli makanan dan pakaian dan
membayar pajak pada pemertintah Belanda saja, sebetulnya tak bisa
ditutup dengan hasil tanahnya yang sebidang kecil itu. Keperluan luar
biasa pada umat Islam, seperti menyunat dan mengawinkan anak dan
merayakan Hari Besar Islam, Lebaran, menuntut ongkos luar biasa yang
bagaimana juga rajinnya dia bekerja tak bisa dipenuhi lagi. Terpaksa
ia meminjam uang lagi kepada tuan Halal bin Fulus dari Tanah Suci yang
seagama dengan dia. Melunaskan hutang dan bunganya yang makin lama
bertambah-tambah itu. Tuan Halal bin Fulus tahu pula akan sifatnya
petani Indonesia, het zachte volk der aarde, itu bangsa yang
semanis-manisnya. Gula Arabpun manis, dan tuan Fulus tak keberatan
melebihi harga tanggungan. Tetapi pada satu ketika harga tanah
pekarangan dan rumah petani sampai menjadi kurang atau hampir saja
dengan hutang bunganya. Disini tuan Fulus baru sekarang petani ada
semacam tikus di dalam cengkeraman kucing. Seagama atau tidak, dengan
manis atau suara keras, namun hutang mesti dibayar.
Kalau kebetulan petani ada mempunyai anak perawan yang cocok sama
perasaan tuan Fulus, suka atau tak suka si perawan, karena petani
kebuntuan jalan, perkara hutang mungkin dihabiskan dengan perdamaian
diantara tuan Fulus dengan petani Indonesia berdua saja. Tetapi kalau
petani kebetulan punya anak bujang saja, atau kalau ada perawan yang
cantik tetapi jika si ayah meskipun kemauan anaknya yang tak mau
dikawinkan dengan tuan Fulus yang sudah tua dan beberapa kali kawin
itu, maka disini timbullah percekcokan. Tuan Halal bin Fulus kita
andaikan marah dan pergi mengadu ke Pengadilan.
Perkara diperiksa. Kalau perlu tuan Fulus mencari advokad yang pintar;
arief bisaksana, yang tentu akan berusaha keras, menurut nilai
pembayarannya. Dalam 99 diantara 100 perkara semacam itu, tentulah
tuan Halal bin Fulus berasal dari tanah Suci, yang menang. Petani yang
tak kuasa membeli beras atau sehelai pakaian buat anak bini masa
Lebaran, kalau tak meminjam lebih dahulu pada tuan Fulus, manakah bisa
bayar advokat. Pengadilan umpamanya memutuskan, bahwa si-tani mesti
menjual tanah, pekarangan, rumah dan perabotan kalau ada; sapi atau
ayampun kalau ada, buat membayar hutangnya.
Sedikit kepanjangan buat contoh, tetapi kependekan buat hal yang
banyak sekali terjadi di pulau Jawa dan penting buat kehidupan orang
Indonesia. Sekarang kita bertanya : Adilkah putusan Hakim Pengadilan
tadi? Inilah salah satu dari pertanyaan yang tiada boleh dijawab
dengan ya, dan tidak saja. Karena pertanyaan itu berkenaan dengan
perkara yang berhubungan dengan masyarakat yang bertentangan diantara:
Yang berpunya dengan Tak berpunya.
Tuan Fulus Muslimin yang Berpunya, sebagian besar dari kaum Ulama dan
Pemerintah berdasar “kepunyaan sendiri”, tentulah 100% membenarkan
putusan itu. Petani berhutang dan hutang mesti dibayar. Ini cocok
dengan semua Undang kemodalan dan cocok dengan semua Agama.
Sebaliknya filsafat kaum Tak Berpunya atau Undang kaum Tak berpunya
(dimana kaum Tak berpunya menguasai Negara) 100 % pula akan memutuskan
bahwa putusan Hakim “tidak” adil.
Kalau penulis ini umpamanya berkuasa mengambil putusan, maka penulis
akan menyuruh pilih saja satu dari dua putusan. Pertama, karena tuan
Halal bin Fulus bukan bangsa Indonesia, supaya pulang kembali ke Tanah
Suci denga diizinkan membawa sekedarnya dari harta bendanya, atau
kedua: boleh tinggal disini, tetapi mesti mengembalikan semua hartanya
pada Negara Indonesia. Dalam hal kedua dia lebih dahulu mesti
dijadikan “manusia yang berguna buat masyarakat Indonesia”, yaitu
dengan menukar dia sebagai paraciet, shylock, lintah-darat, menjadi
“pekerja” sekurangnya 13 tahun. Sesudah itu baru boleh diterima
menjadi penduduk yang sama haknya dnegan “pekerja” yang lain-lain.
Pendeknya dalam perkara diantara dua pokok yang bertentangan, kita
tidak bisa menjawab dengan ya atau tidak (benar atau salah, adil atau
dhalim), sebelum kita mengambil pendirian, mengambil penjuru dari mana
kita mesti memandang, point of view. Apa yang dipandang adil dari satu
pihak, berarti tak adil dipandang dari pihak yang lain, dan
sebaliknya. Sebab itu kita mesti lebih dahulu berpihak pada yang lain,
atau sebaliknya inilah artinya menentukan POINT OF VIEW. Dari salah
satu sudut barulah kita bisa memandang dan memutuskan ya atau tidak.
yang saya ambil
http://id.wikisource.org/wiki/Madilog/Bab5
saya berpikir saat ini lah waktu nya bagi kita untuk bersama sama
bergerak bersama sama untuk memilah mana yang racun mana yang obat..
ini seperti sungguh harus bener bener ber hati hati kita meliat nya
dalam kaca wilayah di indonesia ini, klo saya pikir tempat tinggal
penulis tidak mewakili antropoli dan sosiologi wilayah dari nusantara
cara pemakain bahasa yg terlalu subyektif, sudah hilangkah akal
berfikir kita. atau duri dalam tulang kah yang selama ini melumpuhkan
kaki dan membutakan mata serta memekan telinga kita. sehingga kita
sudah tak dapat lagi memisahkan mana racun dan mana obat selama itu
juga kita menunggu satu persatu tubuh kita terpisahkan serti nya kusta
telah mengerogi suatu penyakit yang membinasa kan suatu kaum pada
jaman nabi dan rasul. baik dan buruk setiap manusia pasti memiliki.
dengan itu lah manusia hidup seperti ya dan tidak, tapi ada rasa lain
dalam hidup dan ke hidupan ini seperti senang sedih suka dan duka
senantiasa klo di urai satu persatu pola yang melingkari kehidupan itu
sendiri tiada yang terliat hanya terang. sesekali seberkas warna hijau
di sudut mata. jangan samapai kita memilih mupakat untuk tidak mufakat
sejerah bandung purba
Sejarah Danau Purba Bandung
Ini adalah salah satu teori tentang sejarah geologi daerah Bandung dan sekitarnya, seperti dipaparkan oleh Haryoto Kunto di bukunya ‘Wajah Bandoeng Tempo Doeloe’ (1984). Saya sendiri pernah mengikuti diskusi di sebuah komunitas bernama ‘Kelompok Riset Cekungan Bandung’ (KRCB), sebuah komunitas Geolog dan non-Geolog yang selalu melakukan riset tentang geologi kota Bandung dan juga melakukan berbagai aktifitas dalam kerangka pelestarian sumber daya dan kemaslahatan kota Bandung. Ternyata menurut beberpa geolog yang hadir di sana, teori yang dipaparkan Haryoto Kunto ini bukan satu-satunya teori tentang pembentukkan dataran Bandung. Tetapi guna sarana belajar, biar kita upload satu demi satu dahulu di Blog-nya Mahanagari ini, dimulai dengan teori dari buku wajah Bandoeng Tempo Doeloe ini. Nanti kita bahas teori yang lain, sip?
Berikut cerita pak Kunto:
Ceritanya panjang sekali, sebab kita musti balik kembali ke masa silam, 20 ‑ 15 juta tahun yang Ialu, tatkala dataran tinggi Bandung niasih terletak di dasar lautan. Pada waktu itu, pulau Jawa sebelah Utara masih merupakan samudera. Hanya bagian Selatannya saja yang berujud tanah dataran dengan pesisirnya tak jauh di sebelah Selatan Pengalengan sekarang. Beberapa pulau volkanik terdapat di depan pantai itu.
Sisa lapisan ‑ lapisan yang diendapkan 20 juta tahun yang Ialu, kini masih bisa disaksikan di daerah Purwakarta dan Subang. Batuan ‑ batuan Napal dan Gamping (karang) yang ditemukan mengandung fosil binatang laut Foraminifera, seperti Cyoloclypeus dan Lepidecyclina (Kusumadinata, 1959).
Secara bertahap pantai laut Jawa yang semula terletak di Selatan Pengalengan (Kabupaten Bandung), lama – lama bergeser makin ke Utara, tak jauh dari Kota Bandung. Ini terjadi pada periode revolusioner, di akhir jaman Miosen (25 - 14 juta tahun yang Ialu). Pergeseran pantai Laut Jawa ke arah utara Bandung diakibatkan oleh pembentukan gunung (orogenese) dan proses pelipatan lapisan bumi. Sedimen yang terlipat, kemudian muncul di atas laut.
Masa berikutnya kembali mengalami periode istirahat, di mana kegiatan volkanik dan sedimentasi cekungan dalam laut di Utara Bandung mengakibatkan munculnya bukit bukit Selacau yang bentuknya mirip piramida.
Pada akhir Pliosen (dua juta tahun yang lalu) terjadi lagi periode revolusioner berupa tekanan dari sedimen, hingga terjadi proses pembentukan gunung, disusul menghilangnya Selacau.
Pada permulaan periode Plestosen (1 juta tahun yang lalu), beberapa kegiatan volkanik di daerah Utara Bandung sempat membentuk kumpulan gunung api, ukuran dasarnya sebesar 20 km dengan ketinggian, antara 2.000 - 3.000 Mtr.
Gunung ini dikenal sebagai Gunung .Sunda, sebuah gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya. Sedangkan
Gunung.Burangrang hanya merupakan parasit dari gunung itu (Prof.Dr.Th.H.F.Klompe, "The Geology of Bandung-, 1956).
Masih pada periode Plestosen itu juga, Gn.Sunda runtuh diikuti oleh terjadinya Patahan Lembang. Sebuah rekaman geologi dari periode itu, masih dapat dilihat dalarn bentuk endapan binatang Vertebrata di penyayatan sungai Citarum sebelah barat Batujajar, seperti yang diteraukan oleh Stehn dan Umbgrove (1929).
Nah, sekarang sampailah kita pada kejadian alam yang patut diingat - ingat!
Pada jaman Holosen, 11 ribu tahun yang lalu, lahirlah Gunung Tangkubanparahu sebagai anak dari kaldera Gunung.Sunda, dan gunungapi itu menutupi bagian timur sisa gunungapi lama. Paling tidak gunung itu telah mengalami 3 kali erupsi besar yang mengeluarkan lava dan abu yang menimpa daerah sebelah utara Bandung.
Erupsi besar kedua dari Gunung Tangkubanparahu, yang menurut Cerita Rakyat (Legenda) adalah "perahu" yang tertelungkup ditendang Sangkuriang yang kesiangan, terjadi 6.000 tahun yang lalu.
Adapun muntahan dari erupsi besar kedua itu, tersebar di sebelah barat Ciumbuleuit (Bandung) dan sebagian lagi sempat menyumbat sungai Citarum yang mengalir di lembah Cimeta (utara Padalarang), sehingga terbentuklah "Danau Bandung". Sebuah danau yang sering juga disebut oleh manusia jaman baheula sebagai "Situ Hiang".
Baru sekitar 4000 - 3.000 tahun yang lewat, Danau Bandung mulai surut airnya dan muncullah Dataran Tinggi Bandung. Danau itu mulai kering menyusut, tatkala sungai Citarum yang tersumbat muntahan Gunung Tangkubanparahu atau Gunung Burangrang (?) bisa bebas mengalir kembali, dengan menembus bukit - bukit Rajamandala (sebelah barat Batujajar), melewati terowongan-alam Sanghiangtikoro.
Dataran tinggi Bandung yang terkenal akan kesuburannya, sekarang terletak ± 725 Mtr di atas permukaan laut, dikepung gunungapi dan di sebelah barat terdapat bukit bukit batu gamping. Endapan batu gamping yang membentuk bukit - bukit kapur Padalarang adalah bukti, bahwa daerah tersebut pernah terbenam di dasar laut.
Luas dataran tinggi yang di masa silam pernah jadi Situ Hiang (Danau Bandung), membentang dari Cicalengka di timur sampai Padalarang di arah barat, sejauh kurang lebih 50 km. Dari bukit Dago di utara sampai ke batas Soreang - Ciwidey di selatan berjarak 30 km. Kalau dihitung luas Danau Bandung keseluruhan, hampir tiga kali lipat DKI Jakarta. Suatu wilayah yang insya’allah bakal jadi daerah ‘”Bandung Raya” di kemudian hari.
Sekedar ilustrasi tentang kedalaman Danau Bandung jaman baheula, yang airnya menggenangi sebagian besar Kota Bandung sekarang; tepian sebelah utara terletak di Jalan Siliwangi, utara Kampus ITB sekarang.
Tinggi air di Stasiun Kereta Api diperkirakan 25 meter, sedangkan Alun-alun Bandung terbenam 30 meter. Menurut Geologiwan S.Darsoprajitno, kedalaman air 30 meter dapat mengapungkan kapal laut sebesar lebih dari 50.000 ton.
Petadanaubandungcompress_1Gambaran dari luas Situ Hiang atau si Danau Bandung dapat kita lihat pada gambar di atas, di mana daerah berwarna biru muda adalah perkiraan luasnya Danau Bandung, sementara daerah berwarna merah tua adalah luas kota Bandung pada tahun 1981. Danau purba yang luas, bukan?
This entry was posted on Saturday, October 22nd, 2005 at 5:49 am and is filed under Stories. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
yang di ambil dari
Mahanagari Story Room
Sharing Stories to All
Ini adalah salah satu teori tentang sejarah geologi daerah Bandung dan sekitarnya, seperti dipaparkan oleh Haryoto Kunto di bukunya ‘Wajah Bandoeng Tempo Doeloe’ (1984). Saya sendiri pernah mengikuti diskusi di sebuah komunitas bernama ‘Kelompok Riset Cekungan Bandung’ (KRCB), sebuah komunitas Geolog dan non-Geolog yang selalu melakukan riset tentang geologi kota Bandung dan juga melakukan berbagai aktifitas dalam kerangka pelestarian sumber daya dan kemaslahatan kota Bandung. Ternyata menurut beberpa geolog yang hadir di sana, teori yang dipaparkan Haryoto Kunto ini bukan satu-satunya teori tentang pembentukkan dataran Bandung. Tetapi guna sarana belajar, biar kita upload satu demi satu dahulu di Blog-nya Mahanagari ini, dimulai dengan teori dari buku wajah Bandoeng Tempo Doeloe ini. Nanti kita bahas teori yang lain, sip?
Berikut cerita pak Kunto:
Ceritanya panjang sekali, sebab kita musti balik kembali ke masa silam, 20 ‑ 15 juta tahun yang Ialu, tatkala dataran tinggi Bandung niasih terletak di dasar lautan. Pada waktu itu, pulau Jawa sebelah Utara masih merupakan samudera. Hanya bagian Selatannya saja yang berujud tanah dataran dengan pesisirnya tak jauh di sebelah Selatan Pengalengan sekarang. Beberapa pulau volkanik terdapat di depan pantai itu.
Sisa lapisan ‑ lapisan yang diendapkan 20 juta tahun yang Ialu, kini masih bisa disaksikan di daerah Purwakarta dan Subang. Batuan ‑ batuan Napal dan Gamping (karang) yang ditemukan mengandung fosil binatang laut Foraminifera, seperti Cyoloclypeus dan Lepidecyclina (Kusumadinata, 1959).
Secara bertahap pantai laut Jawa yang semula terletak di Selatan Pengalengan (Kabupaten Bandung), lama – lama bergeser makin ke Utara, tak jauh dari Kota Bandung. Ini terjadi pada periode revolusioner, di akhir jaman Miosen (25 - 14 juta tahun yang Ialu). Pergeseran pantai Laut Jawa ke arah utara Bandung diakibatkan oleh pembentukan gunung (orogenese) dan proses pelipatan lapisan bumi. Sedimen yang terlipat, kemudian muncul di atas laut.
Masa berikutnya kembali mengalami periode istirahat, di mana kegiatan volkanik dan sedimentasi cekungan dalam laut di Utara Bandung mengakibatkan munculnya bukit bukit Selacau yang bentuknya mirip piramida.
Pada akhir Pliosen (dua juta tahun yang lalu) terjadi lagi periode revolusioner berupa tekanan dari sedimen, hingga terjadi proses pembentukan gunung, disusul menghilangnya Selacau.
Pada permulaan periode Plestosen (1 juta tahun yang lalu), beberapa kegiatan volkanik di daerah Utara Bandung sempat membentuk kumpulan gunung api, ukuran dasarnya sebesar 20 km dengan ketinggian, antara 2.000 - 3.000 Mtr.
Gunung ini dikenal sebagai Gunung .Sunda, sebuah gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya. Sedangkan
Gunung.Burangrang hanya merupakan parasit dari gunung itu (Prof.Dr.Th.H.F.Klompe, "The Geology of Bandung-, 1956).
Masih pada periode Plestosen itu juga, Gn.Sunda runtuh diikuti oleh terjadinya Patahan Lembang. Sebuah rekaman geologi dari periode itu, masih dapat dilihat dalarn bentuk endapan binatang Vertebrata di penyayatan sungai Citarum sebelah barat Batujajar, seperti yang diteraukan oleh Stehn dan Umbgrove (1929).
Nah, sekarang sampailah kita pada kejadian alam yang patut diingat - ingat!
Pada jaman Holosen, 11 ribu tahun yang lalu, lahirlah Gunung Tangkubanparahu sebagai anak dari kaldera Gunung.Sunda, dan gunungapi itu menutupi bagian timur sisa gunungapi lama. Paling tidak gunung itu telah mengalami 3 kali erupsi besar yang mengeluarkan lava dan abu yang menimpa daerah sebelah utara Bandung.
Erupsi besar kedua dari Gunung Tangkubanparahu, yang menurut Cerita Rakyat (Legenda) adalah "perahu" yang tertelungkup ditendang Sangkuriang yang kesiangan, terjadi 6.000 tahun yang lalu.
Adapun muntahan dari erupsi besar kedua itu, tersebar di sebelah barat Ciumbuleuit (Bandung) dan sebagian lagi sempat menyumbat sungai Citarum yang mengalir di lembah Cimeta (utara Padalarang), sehingga terbentuklah "Danau Bandung". Sebuah danau yang sering juga disebut oleh manusia jaman baheula sebagai "Situ Hiang".
Baru sekitar 4000 - 3.000 tahun yang lewat, Danau Bandung mulai surut airnya dan muncullah Dataran Tinggi Bandung. Danau itu mulai kering menyusut, tatkala sungai Citarum yang tersumbat muntahan Gunung Tangkubanparahu atau Gunung Burangrang (?) bisa bebas mengalir kembali, dengan menembus bukit - bukit Rajamandala (sebelah barat Batujajar), melewati terowongan-alam Sanghiangtikoro.
Dataran tinggi Bandung yang terkenal akan kesuburannya, sekarang terletak ± 725 Mtr di atas permukaan laut, dikepung gunungapi dan di sebelah barat terdapat bukit bukit batu gamping. Endapan batu gamping yang membentuk bukit - bukit kapur Padalarang adalah bukti, bahwa daerah tersebut pernah terbenam di dasar laut.
Luas dataran tinggi yang di masa silam pernah jadi Situ Hiang (Danau Bandung), membentang dari Cicalengka di timur sampai Padalarang di arah barat, sejauh kurang lebih 50 km. Dari bukit Dago di utara sampai ke batas Soreang - Ciwidey di selatan berjarak 30 km. Kalau dihitung luas Danau Bandung keseluruhan, hampir tiga kali lipat DKI Jakarta. Suatu wilayah yang insya’allah bakal jadi daerah ‘”Bandung Raya” di kemudian hari.
Sekedar ilustrasi tentang kedalaman Danau Bandung jaman baheula, yang airnya menggenangi sebagian besar Kota Bandung sekarang; tepian sebelah utara terletak di Jalan Siliwangi, utara Kampus ITB sekarang.
Tinggi air di Stasiun Kereta Api diperkirakan 25 meter, sedangkan Alun-alun Bandung terbenam 30 meter. Menurut Geologiwan S.Darsoprajitno, kedalaman air 30 meter dapat mengapungkan kapal laut sebesar lebih dari 50.000 ton.
Petadanaubandungcompress_1Gambaran dari luas Situ Hiang atau si Danau Bandung dapat kita lihat pada gambar di atas, di mana daerah berwarna biru muda adalah perkiraan luasnya Danau Bandung, sementara daerah berwarna merah tua adalah luas kota Bandung pada tahun 1981. Danau purba yang luas, bukan?
This entry was posted on Saturday, October 22nd, 2005 at 5:49 am and is filed under Stories. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
yang di ambil dari
Mahanagari Story Room
Sharing Stories to All
Kamis, 22 Januari 2009
sekelumit mengenai pendopo nol kilometer
Sekelumit tentang pendopo nol kilometer
Oleh penyair goblok
Pelican bandoeng memcoba menyusun memori bandung tempo doeloe, dengan PENDOPO NOL KILOMETER CAFE Cultural dan kelompok kelompok pecinta bandung, sejak maret 2009 menyelenggarakan konsep cafe culture galerry sejarah bandoeng tempo doeloe.
Tujuan konsep cafe ini adalah:
1. Mendorong upaya "melek sejarah bandung"; menjadikan warga kota sebagai penyusun sejarahnya sendiri.
2. Memperat hubungan antargenerasi dan antargolongan warga kota Bandung.
3. Mendokumentasikan kekayaan bandung (material,haritege, budaya, dan pengetahuan bandung) guna mendorong pelestarian dan kepedulian pada Bandung dalam menghadapi persoalan-persoalan yang bersentuhan dengan kekayaan Bandung.
4. Menumbuhkan kebanggaan warga Bandung, terutama para Genarasi muda, terhadap identitas kota bandung.
Event ini diawali dengan kegiatan berbagi cerita bersama tentang sejarah lisan dan sejarah pasrtisipatif. Lalu dilanjutkan dengan kegiatan pengumpulan informasi yang melibatkan seluruh Tokoh tokoh bandung. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap pengumpulan informasi ini misalnya: para pemuda memelopori diadakannya lomba foto bandung tempo dulu, reuni orang-orang tua yang berusia di atas 60 tahun untuk saling bercerita tentang segala macam hal tentang masa lalu kampung, kegiatan wawancara terekam (dengan perekam audio atau video), dsb.
Pengunjung pendoponolkilometer café culture, dari warga kota, pelancong dalam negeri hingga turis manca negara, dapat dengan leluasa mengenal sejarah kota bandung. Beragam media digunakan dalam cafe ini. Misalnya: tulisan, foto, film, gambar atau lukisan, tari, teater, musik, dsb.
Untuk tahap awal, mulai dikerjakan pengumpulan informasi yang telah dibagi dalam beberapa tema, antara lain:
1. Sejarah asal-usul Bandung, Belanda, dan wilayah hunianya.
2. Kenangan permainan tempo dulu
3. Kenangan tetang pedidikan di Bandung.
4. Kenangan makanan Bandung.
5. Kenangan minuman khas bandung.
6. kenangan bangunan, arsitektur, dan lingkungan.
7. Kenangan Taman taman kota bandung
8. Dokumentasi aktivitas keseharian dan gaya hidup bandung tempo dulu.
9. Dokumentasi bahasa dan budaya di bandung tempo dulu
Di masa mendatang, Pendopo Nol kilometer, direncanakan akan menjadi tempat bagi Pusat Arsip Bandoeng tempo doeloean. Pusat arsip ini akan menyimpan dokumen-dokumen (baik asli maupun salinan) dalam beragam bentuk (kertas, audio, video, maupun data digital), yang berkaitan dengan bandoeng tempo doeloe. Pusat arsip ini akan bisa diakses oleh siapa saja. Beberapa persiapan telah dilakukan, missal mengumpulkan meuble lama, mengenalkan kepada public melalui media on line pengumpulan dokumen bandoeng tempo doeloean. Menjalin kerja sama dengan komnitas komunitas pencinta bandung, menjalin kerjasama dengan biro biro perjalanan, PHRI serta organisasi organisasi kepemudaan di bandung, mewadahi untuk kerja sama sama saling menguntungkan antar komunitas. Untuk mengemas bandung
Oleh penyair goblok
Pelican bandoeng memcoba menyusun memori bandung tempo doeloe, dengan PENDOPO NOL KILOMETER CAFE Cultural dan kelompok kelompok pecinta bandung, sejak maret 2009 menyelenggarakan konsep cafe culture galerry sejarah bandoeng tempo doeloe.
Tujuan konsep cafe ini adalah:
1. Mendorong upaya "melek sejarah bandung"; menjadikan warga kota sebagai penyusun sejarahnya sendiri.
2. Memperat hubungan antargenerasi dan antargolongan warga kota Bandung.
3. Mendokumentasikan kekayaan bandung (material,haritege, budaya, dan pengetahuan bandung) guna mendorong pelestarian dan kepedulian pada Bandung dalam menghadapi persoalan-persoalan yang bersentuhan dengan kekayaan Bandung.
4. Menumbuhkan kebanggaan warga Bandung, terutama para Genarasi muda, terhadap identitas kota bandung.
Event ini diawali dengan kegiatan berbagi cerita bersama tentang sejarah lisan dan sejarah pasrtisipatif. Lalu dilanjutkan dengan kegiatan pengumpulan informasi yang melibatkan seluruh Tokoh tokoh bandung. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap pengumpulan informasi ini misalnya: para pemuda memelopori diadakannya lomba foto bandung tempo dulu, reuni orang-orang tua yang berusia di atas 60 tahun untuk saling bercerita tentang segala macam hal tentang masa lalu kampung, kegiatan wawancara terekam (dengan perekam audio atau video), dsb.
Pengunjung pendoponolkilometer café culture, dari warga kota, pelancong dalam negeri hingga turis manca negara, dapat dengan leluasa mengenal sejarah kota bandung. Beragam media digunakan dalam cafe ini. Misalnya: tulisan, foto, film, gambar atau lukisan, tari, teater, musik, dsb.
Untuk tahap awal, mulai dikerjakan pengumpulan informasi yang telah dibagi dalam beberapa tema, antara lain:
1. Sejarah asal-usul Bandung, Belanda, dan wilayah hunianya.
2. Kenangan permainan tempo dulu
3. Kenangan tetang pedidikan di Bandung.
4. Kenangan makanan Bandung.
5. Kenangan minuman khas bandung.
6. kenangan bangunan, arsitektur, dan lingkungan.
7. Kenangan Taman taman kota bandung
8. Dokumentasi aktivitas keseharian dan gaya hidup bandung tempo dulu.
9. Dokumentasi bahasa dan budaya di bandung tempo dulu
Di masa mendatang, Pendopo Nol kilometer, direncanakan akan menjadi tempat bagi Pusat Arsip Bandoeng tempo doeloean. Pusat arsip ini akan menyimpan dokumen-dokumen (baik asli maupun salinan) dalam beragam bentuk (kertas, audio, video, maupun data digital), yang berkaitan dengan bandoeng tempo doeloe. Pusat arsip ini akan bisa diakses oleh siapa saja. Beberapa persiapan telah dilakukan, missal mengumpulkan meuble lama, mengenalkan kepada public melalui media on line pengumpulan dokumen bandoeng tempo doeloean. Menjalin kerja sama dengan komnitas komunitas pencinta bandung, menjalin kerjasama dengan biro biro perjalanan, PHRI serta organisasi organisasi kepemudaan di bandung, mewadahi untuk kerja sama sama saling menguntungkan antar komunitas. Untuk mengemas bandung
Jaarbeurs - acara tahunan yang hilang
Jaarbeurs 1925
Kalau di Batavia ada Pasar Gambir jaman baheula yang jadi cikal bakal Jakarta Fair, di Bandung ternyata juga ada. Namanya Jaarbeurs atau Annual Trade Fair, yang kalau diterjemahin : Bursa dagang tahunan. Acara ini mulai diadakan pada tahun 1920 pada bulan Juni sampai Juli atas prakarasa Comite tot Behartiging van Bandoeng's Belangen (Komite guna mengurus kota Bandung) yang pada tahun 1920 berubah namanya menjadi Bandoeng Vooruit (Bandung maju). Jaarbeurs dibuka oleh Walikota Bandung saat itu - B. Coops yang juga sebagai pemrakarsa.
Gedung Jaarbeurs 2008
Dari tahun 1920 sampai 1924 Jaarbeurs dilaksanakan di area sebelah Selatan lapangan olah raga Nederland Indie Athletiek Unie - NIAU, yang sekarang dikenal sebagai Gelora Saparua, dalam bentuk bangunan-bangunan semi permanen. Baru pada tahun 1925 gedung utama Jaarbeurs selesai dibangun oleh arsitek yang banyak mewarnai kota Bandung baheula dengan karya-karyanya - Schoemaker bersaudara. Gedung di jalan Aceh ini bergaya art deco dengan tiga patung torso Atlas bugil di bagian atapnya dan tulisan Jaarbeurs di bagian bawah. Patung-patung ini pernah ditutup untuk waktu yang lama karena dianggap melanggar kesopanan, namun sekarang telah dibuka kembali.
Tiga patung torso Atlas di atap gedung Jaarbeurs
Suasana Jaarbeurs saungguh amat meriah. Selain tersedia panggung-panggung pertunjukan, juga terdapat stand-stand yang menempati bangunan-bangunan semi permanen untuk mempromosikan berbagai produk industri dan perkebunan dari Bandung. Kegiatan ini sekaligus menjadi promosi pariwisata Bandung saat itu. Pengunjung bukan hanya masyarakat Bandung saja. Bahkan wisatawan dan pengusaha dari daerah lain dan manca negara banyak yang datang. Sehingga hotel-hotel dan villa-villa di Bandung kebanjiran tamu.
Menurut cerita, seniman yang juga pahlawan nasional : Ismail Marzuki ketemu jodohnya Eulis Zuraidah, di arena Jaarbeurs ini.
Sepintas gedung yang sekarang menjadi gedung MAKODIKLAT TNI-AD ini terlihat mirip dengan gedung Merdeka di jalan Asia Afrika, tentu ngga aneh, karena arsiteknyapun sama, ya Schoemaker juga. Acara bursa dagang tahunan ini berakhir pada tahun 1941 karena pada tahun 1942 Jepang keburu masuk Indonesia. Sayangnya setelah kemerdekaan acara ini tidak dilanjutkan kembali.
Poster acara Jaarbeurs 1931
Gedung utama Jaarbeurs ketika baru selesai dibangun-1925
Pengunjung membeli karcis sebelum masuk Jaarbeurs
Noni-noni Londo pada perayaan Jaarbeurs
Suasana jaarbeurs
Stand Toko buku M I Prawira Winata
Stand Kendaraan bermotor dari Jl. Naripan
Stand butik terkenal di Bragaweg : Au Bon Marche
Stand Importir kamera : Luyks
Stand Produsen teh Goalpara
Jaarbeurs 1925
Kalau di Batavia ada Pasar Gambir jaman baheula yang jadi cikal bakal Jakarta Fair, di Bandung ternyata juga ada. Namanya Jaarbeurs atau Annual Trade Fair, yang kalau diterjemahin : Bursa dagang tahunan. Acara ini mulai diadakan pada tahun 1920 pada bulan Juni sampai Juli atas prakarasa Comite tot Behartiging van Bandoeng's Belangen (Komite guna mengurus kota Bandung) yang pada tahun 1920 berubah namanya menjadi Bandoeng Vooruit (Bandung maju). Jaarbeurs dibuka oleh Walikota Bandung saat itu - B. Coops yang juga sebagai pemrakarsa.
Gedung Jaarbeurs 2008
Dari tahun 1920 sampai 1924 Jaarbeurs dilaksanakan di area sebelah Selatan lapangan olah raga Nederland Indie Athletiek Unie - NIAU, yang sekarang dikenal sebagai Gelora Saparua, dalam bentuk bangunan-bangunan semi permanen. Baru pada tahun 1925 gedung utama Jaarbeurs selesai dibangun oleh arsitek yang banyak mewarnai kota Bandung baheula dengan karya-karyanya - Schoemaker bersaudara. Gedung di jalan Aceh ini bergaya art deco dengan tiga patung torso Atlas bugil di bagian atapnya dan tulisan Jaarbeurs di bagian bawah. Patung-patung ini pernah ditutup untuk waktu yang lama karena dianggap melanggar kesopanan, namun sekarang telah dibuka kembali.
Tiga patung torso Atlas di atap gedung Jaarbeurs
Suasana Jaarbeurs saungguh amat meriah. Selain tersedia panggung-panggung pertunjukan, juga terdapat stand-stand yang menempati bangunan-bangunan semi permanen untuk mempromosikan berbagai produk industri dan perkebunan dari Bandung. Kegiatan ini sekaligus menjadi promosi pariwisata Bandung saat itu. Pengunjung bukan hanya masyarakat Bandung saja. Bahkan wisatawan dan pengusaha dari daerah lain dan manca negara banyak yang datang. Sehingga hotel-hotel dan villa-villa di Bandung kebanjiran tamu.
Menurut cerita, seniman yang juga pahlawan nasional : Ismail Marzuki ketemu jodohnya Eulis Zuraidah, di arena Jaarbeurs ini.
Sepintas gedung yang sekarang menjadi gedung MAKODIKLAT TNI-AD ini terlihat mirip dengan gedung Merdeka di jalan Asia Afrika, tentu ngga aneh, karena arsiteknyapun sama, ya Schoemaker juga. Acara bursa dagang tahunan ini berakhir pada tahun 1941 karena pada tahun 1942 Jepang keburu masuk Indonesia. Sayangnya setelah kemerdekaan acara ini tidak dilanjutkan kembali.
Poster acara Jaarbeurs 1931
Gedung utama Jaarbeurs ketika baru selesai dibangun-1925
Pengunjung membeli karcis sebelum masuk Jaarbeurs
Noni-noni Londo pada perayaan Jaarbeurs
Suasana jaarbeurs
Stand Toko buku M I Prawira Winata
Stand Kendaraan bermotor dari Jl. Naripan
Stand butik terkenal di Bragaweg : Au Bon Marche
Stand Importir kamera : Luyks
Stand Produsen teh Goalpara
Langganan:
Postingan (Atom)













