Selasa, 27 Januari 2009

maung

MAKNA DIBALIK SIMBOL "MAUNG"

Berbicara mengenai harimau yang dalam bahasa Sunda disebut "Maung,
Lodaya, dan Sancang", tidak terlepas dari konteks keperkasaan dan
kepahlawanan. Silihwangi gelar kebesaran raja Pajajaran, bagi orang
sunda merupakan karuhun yang menjadi panutan, pun dilambangkan dengan
maung. Tidak hanya itu dalam dunia persilatan di tatar Sunda, maung
menjadi sosok yang paling dominan dibandingkan dengan hewan-hewan
lainnya.

Brigjen Polisi Purnawarman R. Gojali Suriamijaya dan (Alm) Dadang
Ibnu, salah satu pembantu Oto Iskandardinata, dari Sukaraja
menjabarkan, bahwa lambang Galuh adalah harimau kumbang, sedangkan
lambang Pajajaran adalah harimau putih. Di sini yang ditonjolkan bukan
harimaunya, melainkan warnanya, yaitu warnah putih dan kumbang (warna
antara biru dengan hitam). Jadi pola ini menunjukkan hal sama dengan
pola sebelumnya. Orang Pulau Jawa sendiri menyadap kata wyaghra dari
bahasa Sangsakerta yang mengandung arti harimau atau pahlawan. Dalam
Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 1, dikisahkan bahwa
Purnawarman yang selalu unggul dalam peperangan itu dijuluki Wyaghra
Ning Tarumanagara atau Harimau Tarumanagara. Jadi, ada tradisi yang
mengasosiasikan harimau dengan perbuatan kepahlawanan.

Ki Buyut Rambeng dalam lakon Dadap Malang menggunakan sebutan "Maung
Selang" untuk para Senopati Pajajaran. Konon, harimau ini kecil
tetapi terkenal garang (menurut Coolsma, "tijger met zwarte grondkleur
roode strepen" = harimau dengan bulu dasar hitam bergaris merah).

Buat orang Jawa umumnya dan orang Sunda khususnya, kata lain menyebut
harimau dengan Singha, mengapa demikian? Padahal di tanah Jawa tidak
ditemukan hewan ini. Kata singha tidak umum digunakan di tatar Jawa,
diprediksi kata singha ini terpengaruh dari Timur Tengah ketika
masuknya agama Islam ke bumi Nusantara. Pada akhirnya menjadi sebutan
umum untuk harimau, khususnya di tanah Cerbon (kalangan tertentu).
Sebelumnya mari kita tengok ke belakang jauh sebelum agama Islam masuk
ke Nusantara, penggunaan kata singha ini juga dipengaruhi agama Budha.

Patung Harimau peninggalan masa silam belum ditemukan, tetapi agama
Budha memperkenalkan patung singa pengawal seperti tampak di pelataran
Candi Borobudur. Singa adalah lambang Sidharta Gautama yang sebelum
menjalani kehidupan sebagai Budha menjadi pahlawan bangsanya dengan
gelar Ksatria Sakyasimha (singha bangsa Sakya). Dapat disimpulkan
bahwa ternyata makna dari simbol keperkasaan hewan ini yang diambil,
baik itu harimau maupun singha sama-sama memiliki makna keperkasaan.


Ikonografi di Borobudur menampilkan patung singa-pengawal dengan sikap
duduk seragam seperti Spinx dekat Piramida Gizeh di Mesir. Duduk pada
kaki belakang dan bertopang pada kedua kaki depan yang dilipat
menjulur ke depan sambil menegakkan dada. Itulah sikap santai, tenang
dan anggun tetapi penuh kewaspadaan tanpa menampilkan sikap mengancam.
Dengan sikap duduk seperti itu, hewan jenis harimau dan singha dapat
langsung berdiri dengan sekali gerakan lompat.

Masyarakat traditional di Jawa Barat pada tahun 1930-an selalu membuat
tabungan (cengcelengan) berbentuk harimau dengan sikap duduk
sepertisinga- pengawal di Borobudur itu. Hal ini tentu saja diwarisinya
turun-temurun.

Tapi bila kita saksikan bagaimana kisah kepergian Surawisesa atas
perintah ayahnya (Silihwangi) ke Malaka dalam lakon pantun digubah
menjadi kepergian Mundinglaya Dikusuma ke Kahiyangan mencari Lalayang
Salakadomas, dan tokoh Alfonso d'Albuquerque digantikkan posisinya
oleh tokoh Sunan Ambu, dapatlah disimpulkan bahwa kisah-kisah ajaib
seperti itu bernilai simbolik dan menyembunyikan sesuatu
kenyataan.Tidak mungkinkah kisah gaib harimau kumbang dan harimau
putih itu juga melambangkan kaitan historis antara Tarumanagara
(tarum=nila= hitam) dengan Sunda (putih)?.

Terlepas dari itu semua, orang sependapat bahwa harimau menjadi
lambang kepahlawanan dan putih melambangkan kesucian, kemurnian,
kejujuran dan keadilan. Patung harimau putih hanyalah hiasan yang
mudah-mudahan mampu mengingatkan kita apa arti keadilan dan kejujuran
dalam ajaran moralsebagai bagian warga negara Republik Indonesia. "The
Kingdom of Sunda is justly governed" (kata Tome Pires) patut kita
buktikan, minimal di sebagian kecil bekas ibukotanya. Taruma-Sunda
adalah identitas sejarah Bogor. Ciliwung-Cisadane menjadi identitas
topografinya (waruga). Sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya,
Kotamadya Bogor memiliki bendera pengenal yang berwarna tarum dan
putih dengan lambang daerah di tengahnya. Silahkan baca saja bendera
itu dengan Kotamadya Bogor di atas lahan Ciliwung dan Cisadane.

Uraian ini ditambahkan sebagai pelengkap dengan maksud memandang ke
sisi lain tempat orang-orang tua yang bijak merenungkan sesuatu di
luar wujud materi. Manusia modern pernah beranjak terlalu jauh dan
menganggap dirinya berhadapan, bahkan berhak menaklukkan alam. Namun
pengalaman membuktikan bahwa mereka hanya sebagian dari alam itu.
Menaklukkan alam berartimemusnahkan diri sendiri karena lingkungan
hidup itu bukan untuk para penghuninya, melainkan terdiri atas para
penghuninya.

Hana nguni hana mangketan hana nguni tan hana mangkeaya ma beuheula
aya tu ayeunahanteu ma beuheula hanteu tu ayeunahana tunggak hana
watangtan hana tunggak tak hana watanghana ma tunggulnya aya tu
catangnya.

Disarikan dari berbagai sumber & Nyaangan Alam Dunya

Senin, 26 Januari 2009

letak pendopo Nol kilometer di depan sebelah kiri


Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika Nomor 65 Bandung ini dibangun pada 1895 sebagai tempat pertemuan bagi orang-orang Eropa, terutama yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Kebanyakan dari mereka yang memiliki perkebunan teh dan Belanda officers.They membentuk masyarakat yang dikenal sebagai Societeit Concordia pada 29 Juni 1879. Tujuan dari masyarakat adalah "... ... bevordering de van gezellig verkeer".

Sebagai tempat pertemuan pertama pada mereka yang digunakan untuk mengumpulkan beberapa teh di Warung De Vries.Afterwards, (1895) mereka pindah ke sebuah bangunan di seberang Warung De Vries, named Concordia yang berlangsung 7,983 meter persegi. Pada tahun, bangunan itu sederhana, yang satu dinding yang terbuat dari kayu dan dari sumber cahaya pada malam hari hanya lanterns.The bensin bangunan yang terletak di sudut "Groote Postweg" (sekarang Jalan Asia Afrika) dan " Bragaweg "(sekarang Jalan Braga). Sayap kiri-nya adalah sebelah Tjikapoendoeng Sungai (Cikapundung) yang sangat nyaman karena banyak tumbuh pepohonan tebal.

Minggu, 25 Januari 2009

tentang babakan siliwangi

di ambil dari http://www.km.itb.ac.id

Keluarga Mahasiswa ITB
Babakan Siliwangi : Kecolongan!



Written by nanta
Monday, 26 January 2009 04:19
Kita kecolongan!! Kita disini dalam artian orang-orang yang berkomitmen dan konsisten dalam menjaga kawasan Babakan Siliwangi. Saya pribadi telah ditipu oleh orang yang mengaku sebagai orang yang bergerak di bidang penghijauan dengan sukarela. Orang yang mengatasnamakan suatu perguruan pencak silat ini pada awalnya melakukan penghijauan di Babakan Siliwangi. Tahap awal yang dilakukannya adalah membersihkan tanaman-tanaman liar. Setelah di bersihkan dibuat lobang untuk ditanam. Lobang yang sudah digali tidak langsung ditanam, harus dibiarkan selama 1 bulan dulu.

Pada saat sidang amdal, pihak pengembang mengatakan sudah melakukan penghijauan. Mereka memperlihatkan bukti-bukti berupa foto. Terus terang saya kaget saat melihat foto-foto tersebut. Foto yg dipaparkan adalah lahan-lahan yang ditanam oleh relawan yang sudah saya kenal sebelumnya. Saya beserta 2 teman berfikir dua hal. Bisa jadi si relawan dan pihak pengembang sudah bekerja sama sebelumnya atau pihak pengembang cuma mengklaim. Dari analisis yang saya lakukan lebih condong ke si relawan sudah bekerja sama. karena posisi lobang sesuai dengan gambar rancangannya. "Berarti saya sudah ketipu" kata saya dalam hati.

Area penghijauan hampir mencakup semua lahan babakan siliwangi. Mulai dari pinggiran sungai sampai tempat yang biasanya menjadi lahan parkir anak ITB yang kini sudah ditutup oleh Sarpras ITB.

Saya berfikir, ini sudah kecolongan sangat jauh. Mulai dari penandaan pohon-pohon sampai penghijauan. Bagi saya ini sebuah pelanggaran. Pengembang dengan menggunakan alibi sebagai penghijauan sudah mulai tahap pembangunan. Anggap saja penanaman ini sebagai langkah awalnya dan posisi tanamannya pun sesuai dengan rancangan. Harusnya ini
dilakukan kalau izin mendirikan bangunan (IMB) sudah keluar. Mungkin jurusan Planologi lebih mengerti tentang hal ini.

Kata seorang teman, di dunia "persilatannya" hal ini biasa terjadi. Saling mengklaim sudah menjadi cara yg paling gampang. Saya pribadi belum bisa mewaspadai kejadian seperti ini. Seperti inilah dunia politik yg harus saya hadapi. Dunia yg masih baru bagi saya. Sempat solusi terfikirkan, yaitu lewat jalur hukum. Kata seorang teman, "hukum bisa dibeli boy!!" saya lupa kalau saya berada di negara Indonesia yang kalau kata orang "ada uang semua beres". Mungkin
perkataan teman saya ada benarnya juga. Jadi, saya harus gmana? Harus melakukan aksi demo didepan gedung sate? Kata seorang teman yang lain, "Telinga pemkot udah tebal ama yang gituan!!". Perkataan ini pun ada benarnya juga. Jadi, harus bagaimana?

Saya tidak ingin seperti orang-orang yang sibuk aksi turun ke jalan yang sia-sia. aksi yg merugikan dan mengganggu kegiatan masyarakat. Berkoar-koar tapi tidak melakukan tindakan kongkrit. Omdo!! Oleh senior saya selalu ditekankan untuk bertindak kreatif, rapi, dan profesional. Mungkin saya belum mencapai semuanya, tapi saya berusaha untuk menuju kesana. Integritas sangat diperlukan..

Kata seorang teman, "Tipis bedanya integritas dengan formalitas". Di "medan perang" yg sedang saya hadapi ini sangat telihat. Saya mulai bisa membedakan antar orang yang bersungguh-sungguh dengan orang yang sekedar cari muka (politik pencitraan). Semakin kebayang dunia yang akan saya hadapi setelah saya lulus.

Maaf, kebanyakan curhatnya...

salam
ank punk!!
Rencana Salah satu pembicara, dalam dialog melestarikan cagar budaya dari budaya itu sendiri, di pendopo Nol kilometer. Dan pembicara /pendengar lain Pemerintah (gubernur/ wakil gubernur, walikot/wakil, dinas parawisata, PHRI, media.)
Dan kita semua yang peduli dengan kota ini. Mudah mudahan pertanyaan yang selama ini bisa terjawabkan.

rencana agenda 2009 pendopo Nol kilometer maret

pembahasan
YA dan TIDAK


Bagian 3. PERTENTANGAN

Pada Matematika dan Ilmu Alam rendahan, ya dan tidak itu tak langsung
berupa pertentangan yang terang, melainkan mula-mula berupa timbul
atau hilang. Baru pada kedua perkataan timbul dan hilang ini (weden
und vergehen) kata Engels, dia berupa pertentangan. Tetapi pada Ilmu
Masyarakat berdasarkan Komunisme, ya dan tidak itu langsung dan nyata
berdasarkan pertentangan.

Pencaharian Arab di daerah tempat saya menulis Madilog ini, yakni
daerah Jakarta, terutama sekali memperbungakan uang umum dipasar-pasar
dipinjamkan Arab pada Indonesia R 1,- dengan bunga 5 sen sehari.

Berupa kecil, tetapi menurut perhitungan Matematika bunga semacam itu
dan 1,825% setahun. Ini menurut Logika, menurut hitungan bunga
berbunga pula (samengestelde interest). Dengan kerja semacam itu dari
turunan keterurunan, mereka menjadi kaya, ada kaya raya mempunyai
tanah dan rumah. Tentulah bukan satu kali hal yang kita tuliskan
dibawah ini sebagai contoh, yang terjadi semenjak bangsa ini
meninggalkan Tanah Suci dan mencemarkan kaki pada tanah kita yang
dianggap tidak suci ini.

Sebagai misal: Seorang tuan tanah Arab, kita namakan saja Halal bin
Fulus, sudah lama meminjamkan uang pada seorang petani Indonesia.
Petani menanggungkan tanah dan rumahnya atas pinjaman itu. Dia tak
bisa melunaskan hutangnya, sebaliknya membeli makanan dan pakaian dan
membayar pajak pada pemertintah Belanda saja, sebetulnya tak bisa
ditutup dengan hasil tanahnya yang sebidang kecil itu. Keperluan luar
biasa pada umat Islam, seperti menyunat dan mengawinkan anak dan
merayakan Hari Besar Islam, Lebaran, menuntut ongkos luar biasa yang
bagaimana juga rajinnya dia bekerja tak bisa dipenuhi lagi. Terpaksa
ia meminjam uang lagi kepada tuan Halal bin Fulus dari Tanah Suci yang
seagama dengan dia. Melunaskan hutang dan bunganya yang makin lama
bertambah-tambah itu. Tuan Halal bin Fulus tahu pula akan sifatnya
petani Indonesia, het zachte volk der aarde, itu bangsa yang
semanis-manisnya. Gula Arabpun manis, dan tuan Fulus tak keberatan
melebihi harga tanggungan. Tetapi pada satu ketika harga tanah
pekarangan dan rumah petani sampai menjadi kurang atau hampir saja
dengan hutang bunganya. Disini tuan Fulus baru sekarang petani ada
semacam tikus di dalam cengkeraman kucing. Seagama atau tidak, dengan
manis atau suara keras, namun hutang mesti dibayar.

Kalau kebetulan petani ada mempunyai anak perawan yang cocok sama
perasaan tuan Fulus, suka atau tak suka si perawan, karena petani
kebuntuan jalan, perkara hutang mungkin dihabiskan dengan perdamaian
diantara tuan Fulus dengan petani Indonesia berdua saja. Tetapi kalau
petani kebetulan punya anak bujang saja, atau kalau ada perawan yang
cantik tetapi jika si ayah meskipun kemauan anaknya yang tak mau
dikawinkan dengan tuan Fulus yang sudah tua dan beberapa kali kawin
itu, maka disini timbullah percekcokan. Tuan Halal bin Fulus kita
andaikan marah dan pergi mengadu ke Pengadilan.

Perkara diperiksa. Kalau perlu tuan Fulus mencari advokad yang pintar;
arief bisaksana, yang tentu akan berusaha keras, menurut nilai
pembayarannya. Dalam 99 diantara 100 perkara semacam itu, tentulah
tuan Halal bin Fulus berasal dari tanah Suci, yang menang. Petani yang
tak kuasa membeli beras atau sehelai pakaian buat anak bini masa
Lebaran, kalau tak meminjam lebih dahulu pada tuan Fulus, manakah bisa
bayar advokat. Pengadilan umpamanya memutuskan, bahwa si-tani mesti
menjual tanah, pekarangan, rumah dan perabotan kalau ada; sapi atau
ayampun kalau ada, buat membayar hutangnya.

Sedikit kepanjangan buat contoh, tetapi kependekan buat hal yang
banyak sekali terjadi di pulau Jawa dan penting buat kehidupan orang
Indonesia. Sekarang kita bertanya : Adilkah putusan Hakim Pengadilan
tadi? Inilah salah satu dari pertanyaan yang tiada boleh dijawab
dengan ya, dan tidak saja. Karena pertanyaan itu berkenaan dengan
perkara yang berhubungan dengan masyarakat yang bertentangan diantara:
Yang berpunya dengan Tak berpunya.

Tuan Fulus Muslimin yang Berpunya, sebagian besar dari kaum Ulama dan
Pemerintah berdasar “kepunyaan sendiri”, tentulah 100% membenarkan
putusan itu. Petani berhutang dan hutang mesti dibayar. Ini cocok
dengan semua Undang kemodalan dan cocok dengan semua Agama.

Sebaliknya filsafat kaum Tak Berpunya atau Undang kaum Tak berpunya
(dimana kaum Tak berpunya menguasai Negara) 100 % pula akan memutuskan
bahwa putusan Hakim “tidak” adil.
Kalau penulis ini umpamanya berkuasa mengambil putusan, maka penulis
akan menyuruh pilih saja satu dari dua putusan. Pertama, karena tuan
Halal bin Fulus bukan bangsa Indonesia, supaya pulang kembali ke Tanah
Suci denga diizinkan membawa sekedarnya dari harta bendanya, atau
kedua: boleh tinggal disini, tetapi mesti mengembalikan semua hartanya
pada Negara Indonesia. Dalam hal kedua dia lebih dahulu mesti
dijadikan “manusia yang berguna buat masyarakat Indonesia”, yaitu
dengan menukar dia sebagai paraciet, shylock, lintah-darat, menjadi
“pekerja” sekurangnya 13 tahun. Sesudah itu baru boleh diterima
menjadi penduduk yang sama haknya dnegan “pekerja” yang lain-lain.

Pendeknya dalam perkara diantara dua pokok yang bertentangan, kita
tidak bisa menjawab dengan ya atau tidak (benar atau salah, adil atau
dhalim), sebelum kita mengambil pendirian, mengambil penjuru dari mana
kita mesti memandang, point of view. Apa yang dipandang adil dari satu
pihak, berarti tak adil dipandang dari pihak yang lain, dan
sebaliknya. Sebab itu kita mesti lebih dahulu berpihak pada yang lain,
atau sebaliknya inilah artinya menentukan POINT OF VIEW. Dari salah
satu sudut barulah kita bisa memandang dan memutuskan ya atau tidak.

yang saya ambil
http://id.wikisource.org/wiki/Madilog/Bab5

saya berpikir saat ini lah waktu nya bagi kita untuk bersama sama
bergerak bersama sama untuk memilah mana yang racun mana yang obat..
ini seperti sungguh harus bener bener ber hati hati kita meliat nya
dalam kaca wilayah di indonesia ini, klo saya pikir tempat tinggal
penulis tidak mewakili antropoli dan sosiologi wilayah dari nusantara
cara pemakain bahasa yg terlalu subyektif, sudah hilangkah akal
berfikir kita. atau duri dalam tulang kah yang selama ini melumpuhkan
kaki dan membutakan mata serta memekan telinga kita. sehingga kita
sudah tak dapat lagi memisahkan mana racun dan mana obat selama itu
juga kita menunggu satu persatu tubuh kita terpisahkan serti nya kusta
telah mengerogi suatu penyakit yang membinasa kan suatu kaum pada
jaman nabi dan rasul. baik dan buruk setiap manusia pasti memiliki.
dengan itu lah manusia hidup seperti ya dan tidak, tapi ada rasa lain
dalam hidup dan ke hidupan ini seperti senang sedih suka dan duka
senantiasa klo di urai satu persatu pola yang melingkari kehidupan itu
sendiri tiada yang terliat hanya terang. sesekali seberkas warna hijau
di sudut mata. jangan samapai kita memilih mupakat untuk tidak mufakat

sejerah bandung purba

Sejarah Danau Purba Bandung

Ini adalah salah satu teori tentang sejarah geologi daerah Bandung dan sekitarnya, seperti dipaparkan oleh Haryoto Kunto di bukunya ‘Wajah Bandoeng Tempo Doeloe’ (1984). Saya sendiri pernah mengikuti diskusi di sebuah komunitas bernama ‘Kelompok Riset Cekungan Bandung’ (KRCB), sebuah komunitas Geolog dan non-Geolog yang selalu melakukan riset tentang geologi kota Bandung dan juga melakukan berbagai aktifitas dalam kerangka pelestarian sumber daya dan kemaslahatan kota Bandung. Ternyata menurut beberpa geolog yang hadir di sana, teori yang dipaparkan Haryoto Kunto ini bukan satu-satunya teori tentang pembentukkan dataran Bandung. Tetapi guna sarana belajar, biar kita upload satu demi satu dahulu di Blog-nya Mahanagari ini, dimulai dengan teori dari buku wajah Bandoeng Tempo Doeloe ini. Nanti kita bahas teori yang lain, sip?

Berikut cerita pak Kunto:

Ceritanya panjang sekali, sebab kita musti balik kembali ke masa silam, 20 ‑ 15 juta tahun yang Ialu, tatkala dataran tinggi Bandung niasih terletak di dasar lautan. Pada waktu itu, pulau Jawa sebelah Utara masih merupakan samudera. Hanya bagian Selatannya saja yang berujud tanah dataran dengan pesisirnya tak jauh di sebelah Selatan Pengalengan sekarang. Beberapa pulau volkanik terdapat di depan pantai itu.

Sisa lapisan ‑ lapisan yang diendapkan 20 juta tahun yang Ialu, kini masih bisa disaksikan di daerah Purwakarta dan Subang. Batuan ‑ batuan Napal dan Gamping (karang) yang ditemukan mengandung fosil binatang laut Foraminifera, seperti Cyoloclypeus dan Lepidecyclina (Kusumadinata, 1959).

Secara bertahap pantai laut Jawa yang semula terletak di Selatan Pengalengan (Kabupaten Bandung), lama – lama bergeser makin ke Utara, tak jauh dari Kota Bandung. Ini terjadi pada periode revolusioner, di akhir jaman Miosen (25 - 14 juta tahun yang Ialu). Pergeseran pantai Laut Jawa ke arah utara Bandung diakibatkan oleh pembentukan gunung (orogenese) dan proses pelipatan lapisan bumi. Sedimen yang terlipat, kemudian muncul di atas laut.

Masa berikutnya kembali mengalami periode istirahat, di mana kegiatan volkanik dan sedimentasi cekungan dalam laut di Utara Bandung mengakibatkan munculnya bukit bukit Selacau yang bentuknya mirip piramida.

Pada akhir Pliosen (dua juta tahun yang lalu) terjadi lagi periode revolusioner berupa tekanan dari sedimen, hingga terjadi proses pembentukan gunung, disusul menghilangnya Selacau.

Pada permulaan periode Plestosen (1 juta tahun yang lalu), beberapa kegiatan volkanik di daerah Utara Bandung sempat membentuk kumpulan gunung api, ukuran dasarnya sebesar 20 km dengan ketinggian, antara 2.000 - 3.000 Mtr.

Gunung ini dikenal sebagai Gunung .Sunda, sebuah gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya. Sedangkan

Gunung.Burangrang hanya merupakan parasit dari gunung itu (Prof.Dr.Th.H.F.Klompe, "The Geology of Bandung-, 1956).

Masih pada periode Plestosen itu juga, Gn.Sunda runtuh diikuti oleh terjadinya Patahan Lembang. Sebuah rekaman geologi dari periode itu, masih dapat dilihat dalarn bentuk endapan binatang Vertebrata di penyayatan sungai Citarum sebelah barat Batujajar, seperti yang diteraukan oleh Stehn dan Umbgrove (1929).

Nah, sekarang sampailah kita pada kejadian alam yang patut diingat - ingat!

Pada jaman Holosen, 11 ribu tahun yang lalu, lahirlah Gunung Tangkubanparahu sebagai anak dari kaldera Gunung.Sunda, dan gunungapi itu menutupi bagian timur sisa gunungapi lama. Paling tidak gunung itu telah mengalami 3 kali erupsi besar yang mengeluarkan lava dan abu yang menimpa daerah sebelah utara Bandung.

Erupsi besar kedua dari Gunung Tangkubanparahu, yang menurut Cerita Rakyat (Legenda) adalah "perahu" yang tertelungkup ditendang Sangkuriang yang kesiangan, terjadi 6.000 tahun yang lalu.

Adapun muntahan dari erupsi besar kedua itu, tersebar di sebelah barat Ciumbuleuit (Bandung) dan sebagian lagi sempat menyumbat sungai Citarum yang mengalir di lembah Cimeta (utara Padalarang), sehingga terbentuklah "Danau Bandung". Sebuah danau yang sering juga disebut oleh manusia jaman baheula sebagai "Situ Hiang".

Baru sekitar 4000 - 3.000 tahun yang lewat, Danau Bandung mulai surut airnya dan muncullah Dataran Tinggi Bandung. Danau itu mulai kering menyusut, tatkala sungai Citarum yang tersumbat muntahan Gunung Tangkubanparahu atau Gunung Burangrang (?) bisa bebas mengalir kembali, dengan menembus bukit - bukit Rajamandala (sebelah barat Batujajar), melewati terowongan-alam Sanghiangtikoro.

Dataran tinggi Bandung yang terkenal akan kesuburannya, sekarang terletak ± 725 Mtr di atas permukaan laut, dikepung gunungapi dan di sebelah barat terdapat bukit bukit batu gamping. Endapan batu gamping yang membentuk bukit - bukit kapur Padalarang adalah bukti, bahwa daerah tersebut pernah terbenam di dasar laut.

Luas dataran tinggi yang di masa silam pernah jadi Situ Hiang (Danau Bandung), membentang dari Cicalengka di timur sampai Padalarang di arah barat, sejauh kurang lebih 50 km. Dari bukit Dago di utara sampai ke batas Soreang - Ciwidey di selatan berjarak 30 km. Kalau dihitung luas Danau Bandung keseluruhan, hampir tiga kali lipat DKI Jakarta. Suatu wilayah yang insya’allah bakal jadi daerah ‘”Bandung Raya” di kemudian hari.

Sekedar ilustrasi tentang kedalaman Danau Bandung jaman baheula, yang airnya menggenangi sebagian besar Kota Bandung sekarang; tepian sebelah utara terletak di Jalan Siliwangi, utara Kampus ITB sekarang.

Tinggi air di Stasiun Kereta Api diperkirakan 25 meter, sedangkan Alun-alun Bandung terbenam 30 meter. Menurut Geologiwan S.Darsoprajitno, kedalaman air 30 meter dapat mengapungkan kapal laut sebesar lebih dari 50.000 ton.

Petadanaubandungcompress_1Gambaran dari luas Situ Hiang atau si Danau Bandung dapat kita lihat pada gambar di atas, di mana daerah berwarna biru muda adalah perkiraan luasnya Danau Bandung, sementara daerah berwarna merah tua adalah luas kota Bandung pada tahun 1981. Danau purba yang luas, bukan?

This entry was posted on Saturday, October 22nd, 2005 at 5:49 am and is filed under Stories. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

yang di ambil dari

Mahanagari Story Room
Sharing Stories to All

Kamis, 22 Januari 2009

sekelumit mengenai pendopo nol kilometer

Sekelumit tentang pendopo nol kilometer
Oleh penyair goblok

Pelican bandoeng memcoba menyusun memori bandung tempo doeloe, dengan PENDOPO NOL KILOMETER CAFE Cultural dan kelompok kelompok pecinta bandung, sejak maret 2009 menyelenggarakan konsep cafe culture galerry sejarah bandoeng tempo doeloe.
Tujuan konsep cafe ini adalah:
1. Mendorong upaya "melek sejarah bandung"; menjadikan warga kota sebagai penyusun sejarahnya sendiri.
2. Memperat hubungan antargenerasi dan antargolongan warga kota Bandung.
3. Mendokumentasikan kekayaan bandung (material,haritege, budaya, dan pengetahuan bandung) guna mendorong pelestarian dan kepedulian pada Bandung dalam menghadapi persoalan-persoalan yang bersentuhan dengan kekayaan Bandung.
4. Menumbuhkan kebanggaan warga Bandung, terutama para Genarasi muda, terhadap identitas kota bandung.
Event ini diawali dengan kegiatan berbagi cerita bersama tentang sejarah lisan dan sejarah pasrtisipatif. Lalu dilanjutkan dengan kegiatan pengumpulan informasi yang melibatkan seluruh Tokoh tokoh bandung. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap pengumpulan informasi ini misalnya: para pemuda memelopori diadakannya lomba foto bandung tempo dulu, reuni orang-orang tua yang berusia di atas 60 tahun untuk saling bercerita tentang segala macam hal tentang masa lalu kampung, kegiatan wawancara terekam (dengan perekam audio atau video), dsb.
Pengunjung pendoponolkilometer café culture, dari warga kota, pelancong dalam negeri hingga turis manca negara, dapat dengan leluasa mengenal sejarah kota bandung. Beragam media digunakan dalam cafe ini. Misalnya: tulisan, foto, film, gambar atau lukisan, tari, teater, musik, dsb.
Untuk tahap awal, mulai dikerjakan pengumpulan informasi yang telah dibagi dalam beberapa tema, antara lain:
1. Sejarah asal-usul Bandung, Belanda, dan wilayah hunianya.
2. Kenangan permainan tempo dulu
3. Kenangan tetang pedidikan di Bandung.
4. Kenangan makanan Bandung.
5. Kenangan minuman khas bandung.
6. kenangan bangunan, arsitektur, dan lingkungan.
7. Kenangan Taman taman kota bandung
8. Dokumentasi aktivitas keseharian dan gaya hidup bandung tempo dulu.
9. Dokumentasi bahasa dan budaya di bandung tempo dulu
Di masa mendatang, Pendopo Nol kilometer, direncanakan akan menjadi tempat bagi Pusat Arsip Bandoeng tempo doeloean. Pusat arsip ini akan menyimpan dokumen-dokumen (baik asli maupun salinan) dalam beragam bentuk (kertas, audio, video, maupun data digital), yang berkaitan dengan bandoeng tempo doeloe. Pusat arsip ini akan bisa diakses oleh siapa saja. Beberapa persiapan telah dilakukan, missal mengumpulkan meuble lama, mengenalkan kepada public melalui media on line pengumpulan dokumen bandoeng tempo doeloean. Menjalin kerja sama dengan komnitas komunitas pencinta bandung, menjalin kerjasama dengan biro biro perjalanan, PHRI serta organisasi organisasi kepemudaan di bandung, mewadahi untuk kerja sama sama saling menguntungkan antar komunitas. Untuk mengemas bandung
Jaarbeurs - acara tahunan yang hilang

Jaarbeurs 1925
Kalau di Batavia ada Pasar Gambir jaman baheula yang jadi cikal bakal Jakarta Fair, di Bandung ternyata juga ada. Namanya Jaarbeurs atau Annual Trade Fair, yang kalau diterjemahin : Bursa dagang tahunan. Acara ini mulai diadakan pada tahun 1920 pada bulan Juni sampai Juli atas prakarasa Comite tot Behartiging van Bandoeng's Belangen (Komite guna mengurus kota Bandung) yang pada tahun 1920 berubah namanya menjadi Bandoeng Vooruit (Bandung maju). Jaarbeurs dibuka oleh Walikota Bandung saat itu - B. Coops yang juga sebagai pemrakarsa.

Gedung Jaarbeurs 2008

Dari tahun 1920 sampai 1924 Jaarbeurs dilaksanakan di area sebelah Selatan lapangan olah raga Nederland Indie Athletiek Unie - NIAU, yang sekarang dikenal sebagai Gelora Saparua, dalam bentuk bangunan-bangunan semi permanen. Baru pada tahun 1925 gedung utama Jaarbeurs selesai dibangun oleh arsitek yang banyak mewarnai kota Bandung baheula dengan karya-karyanya - Schoemaker bersaudara. Gedung di jalan Aceh ini bergaya art deco dengan tiga patung torso Atlas bugil di bagian atapnya dan tulisan Jaarbeurs di bagian bawah. Patung-patung ini pernah ditutup untuk waktu yang lama karena dianggap melanggar kesopanan, namun sekarang telah dibuka kembali.

Tiga patung torso Atlas di atap gedung Jaarbeurs

Suasana Jaarbeurs saungguh amat meriah. Selain tersedia panggung-panggung pertunjukan, juga terdapat stand-stand yang menempati bangunan-bangunan semi permanen untuk mempromosikan berbagai produk industri dan perkebunan dari Bandung. Kegiatan ini sekaligus menjadi promosi pariwisata Bandung saat itu. Pengunjung bukan hanya masyarakat Bandung saja. Bahkan wisatawan dan pengusaha dari daerah lain dan manca negara banyak yang datang. Sehingga hotel-hotel dan villa-villa di Bandung kebanjiran tamu.

Menurut cerita, seniman yang juga pahlawan nasional : Ismail Marzuki ketemu jodohnya Eulis Zuraidah, di arena Jaarbeurs ini.

Sepintas gedung yang sekarang menjadi gedung MAKODIKLAT TNI-AD ini terlihat mirip dengan gedung Merdeka di jalan Asia Afrika, tentu ngga aneh, karena arsiteknyapun sama, ya Schoemaker juga. Acara bursa dagang tahunan ini berakhir pada tahun 1941 karena pada tahun 1942 Jepang keburu masuk Indonesia. Sayangnya setelah kemerdekaan acara ini tidak dilanjutkan kembali.

Poster acara Jaarbeurs 1931


Gedung utama Jaarbeurs ketika baru selesai dibangun-1925

Pengunjung membeli karcis sebelum masuk Jaarbeurs




Noni-noni Londo pada perayaan Jaarbeurs


Suasana jaarbeurs

Stand Toko buku M I Prawira Winata

Stand Kendaraan bermotor dari Jl. Naripan

Stand butik terkenal di Bragaweg : Au Bon Marche


Stand Importir kamera : Luyks


Stand Produsen teh Goalpara

Jaarbeurs

Jaarbeurs - acara tahunan yang hilang

Jaarbeurs 1925
Kalau di Batavia ada Pasar Gambir jaman baheula yang jadi cikal bakal Jakarta Fair, di Bandung ternyata juga ada. Namanya Jaarbeurs atau Annual Trade Fair, yang kalau diterjemahin : Bursa dagang tahunan. Acara ini mulai diadakan pada tahun 1920 pada bulan Juni sampai Juli atas prakarasa Comite tot Behartiging van Bandoeng's Belangen (Komite guna mengurus kota Bandung) yang pada tahun 1920 berubah namanya menjadi Bandoeng Vooruit (Bandung maju). Jaarbeurs dibuka oleh Walikota Bandung saat itu - B. Coops yang juga sebagai pemrakarsa.

untuk para pengusah bisa mangkal disini

Sebuah tempat berkumpul para pelaku pelaku bisnis
Dari semua kalangan.
Dan agenda rutin kita juga
Pembahasan tentang,
Untuk kalangan bisnis man muda mereka bias bertemu ato mencari parner di bidang bisnis
Untuk bisnis man tua mereka bisa bertemu teman teman lama nya, disana
Ato rekan bisnis nya
Alas an kenapa mereka kenapa mereka memilih pendopo nol kilometer
Adalah tak lain dan tak bukan
Karena pendopo nol kilometer membuat mereka merasa berada di halaman belakang rumah nya. Dengan keramahan dan kehangtan sambutan ketika anda datang.
Dengan afmosfir tempo dulu…
Membangkitkan kenangan kenangan masa masa lalu
Ini lah menbuat orang jadi nyaman dalam bertemu rekan bisnis nya di pendopo nol kilometer.
Klo kita berbicara bisnis di tempat yang nyaman, bukan kah kita dapat mengambil keputusan secara bijaksana
Karana pikiran kita lagi relax, disinilah yang tempat yang tepat untuk membuat keputusan bisnis.

komentar tentang pendopo

Bagus nih Bro, untuk menambah wawasan kita terhadap Kota Bandung tercinta.

Cuman ada 2 hal yang jadi pertanyaan sayah:

Pertama,
Kalo melihat tanda 0 (nol) kilometer yang ada sekarang, lokasinya berada di depan kantor PU (nu aya setum model baheula).

Menurut versi Buku Bandoeng Tempo Doeloe, karya Haryanto Kunto, konon katanya pada saat itu Dendels menancapkan tongkatnya di lokasi tersebut, sambil berkata disini akan menjadi pusat Kabupaten Bandung (harita mah masih kabupaten)

Bagaimana nih, yang betul yang mana ? mohon pencerahannya dari Bro dan member lainnya.

Kedua,
Ada hubungannya sejarah dunia perlendiran jaman dulu di Bandung,... punten ieu mah, kumawantun.

Kalo membaca dari beberapa buku dan artikel sejarah, ceunah baheula Bandung teh, udaranya sejuk, mojangna gareulis sehingga menjadi tempat hiburan favorit bagi menir-menir Belanda.

Konon katanya, sampe ada sejarah yang menceritakan tentang Neng Sari anu Item manis, yang sekarang menjadi Saritem.

Dan konon katanya, julukan Bandung Kota Kembang, dulunya berkonotasi negatif, apakah demikian ?

Mohon pencerahan dari Bro dan senior/ member lainnya?

Sakitu, hatur nuhun,.....................

Rabu, 21 Januari 2009

tamu pagi ini

febry susanti: yup
penyair_goblok: pa kabar sis
febry susanti: baik
penyair_goblok: lagi dimana nih sis
penyair_goblok: klo ke bandung mampir ke kafe aku ya
febry susanti: ohyah
febry susanti: emang dimana
febry susanti: kemarin abis tahun baru aku kesana
febry susanti: dimananya seh
febry susanti: ada cottage / hotelnya gak.../
penyair_goblok: nama kafe ku pendopo nol kilometer
penyair_goblok: bentuk kape nya seperti ini kurang lebih nya
penyair_goblok: http://pendoponolkilometer.blogspot.com
febry susanti: ocre deh
penyair_goblok: Sebuah kafe yang mana siapun bisa meliat liat sebelum datang, serta menikmatin rasa nya sebelum sampai ke bibir
febry susanti: kok gak ada gambar kafenya
penyair_goblok: berat nge uplod nya
febry susanti: dimananya gambarnya
penyair_goblok: besok aku pasang gambar nya
penyair_goblok: apakh sis juga butuh brosur brosur paket nya
febry susanti: iya kalo ada sama cottage / sewa kamarnya neh
febry susanti: boleh aja seh
penyair_goblok: boleh nanti saya kirim kan via email
penyair_goblok: klo boleh tahu paket yang seperti apa yang sis inginkan
febry susanti: ocre
febry susanti: yah yang pasti aku mau nginep lah
penyair_goblok: sebab kami memiliki hampir 40 paket honeymoon dari 30 biro perjalanan
febry susanti: iya mau donk paket honeymoonnya
penyair_goblok: paket seperti apa yang mbak inginkan
febry susanti: yah yang pasti murah
penyair_goblok: yup berapa murah nya.
penyair_goblok: biar kami kirim brosur serta poto cotg nya
febry susanti: yang paling murah adanya apa aja fasilitasnya
febry susanti: aku juga blom ada budget
febry susanti: paling akhir february atau awal maret kesananya
febry susanti: weekend yah
penyair_goblok: yup di tunggu...
penyair_goblok: kami ada paket villa di tenggah perkebunan teh
febry susanti: ocre
penyair_goblok: dan kami juga memiliki rumah kebun
febry susanti: yang pasti juga paket yang hemat yah
penyair_goblok: yup
febry susanti: di daerah mana seh bandungnya
penyair_goblok: mbak cari nol kilometer bandung
penyair_goblok: di savoy homan sayap samping nya mbak tanya aja ke FO nya, ato fb nya
febry susanti: kalo sama rumah sossis jauh gak
penyair_goblok: kita di pusat kota
penyair_goblok: di depan gedung congcordia
penyair_goblok: yang sekarang berganti nama jadi gedung merdeka
febry susanti: ya udah kirimin paket sama gambarnya aja pak
febry susanti: kalo aku tertarik nanti ku kasih tau misuaku
penyair_goblok: sebuah bangunan yang sangat bersejarah dan melambang sosial budaya suatu masa di bandung
penyair_goblok: di pendopo nol kilometer ini mbak akan meliat bandung
penyair_goblok: mbak akan meliat warsan dari sebuah budaya masa lampau
penyair_goblok: di mana sebuah kota tempat peristirahatan para pembesar belanda selam berkuasa di negeri ini
penyair_goblok: tempat di mana menir menir belanda menghabiskan akhir pekan nya
penyair_goblok: gedung congcordia sendiri adalah gedung pertunjukan termashyur saat itu
penyair_goblok: hingga carlie caplin pun merasa harus tampil di temapat itu\
penyair_goblok: waktu ber lalu
penyair_goblok: musim berganti
penyair_goblok: di pendopo nol kilometerlah semua nya kami rangkai untuk mbak mabak semua
penyair_goblok: untuk dapat mencicipi
febry susanti: Keren...

penyair_goblok: seporsi hidangan yang tersisa
penyair_goblok: dari masa lampau
penyair_goblok: kopi kami adalah kopi yang di nikmati oleh oleh menir menir di masa lampau
penyair_goblok: yang masih di olah sama seperti kakek kakek mereka mengolah nya dulu
febry susanti: Alamak!

penyair_goblok: kue kue kami juga kue kue yang di nikmatin oleh menir menir belanda
penyair_goblok: pada masa itu
penyair_goblok: yang pengolahan nya masih sama seperti ibu ibu dan nenek mereka mengolah nya

Senin, 19 Januari 2009

pendopo nol kilometer

pendopo nol kilometer
adalah sebuah tempat dimana anda dapat mengenal bandung lebih dekat sampai di posisi nOL, mari bersama sama kita mulai dari nol untuk menganal kota bandung yang sejuk ini
sambil merangkai kenangan kenangan yang ada. untuk warga kota bandung sendiri ini sangat bermafaat karna mereka lebih mudah menganal bandung lebih dekat lagi. klo ada saudara ato rekan bisnis ato sahabat lama berkunjung, kita lebih mudah mengenalakan bandung pada mereka, di pendopo Nol kilometer
di sana tersidia semua kenangan tentang bandung ( makanan, minuman, dan lai nya)
untuk makanan kue kue nya di suplay dari toko kue yang sudah ada sejak jaman belanda, sampai sekarang cara pengolahan nya masih sama.
begitu pun untuk kopi nya kami memiliki kopi yang udah ada di bandung sejak menir menir belanda minum kopi sore, sampai saat ini dengan biji kopi yang sama dan cara pengolahan yang sama.
musim ber ganti tahun bertukar
sampai saat ini semua nya masih
kami sediakan
untuk tuan tuan semua di pendopo nol kilometer
mungkin tuan tuan dari bandar bandar di nusantara ini, ingin berkunjung ke bandung dan ga punya kenalan ato saudara. kamilah sahabat tuan tuan. datanglah ke pendopo nol kilometer, di sana kami siap membantu apa aja yang tuan butuh kan untuk menikmati tanah pahrayangan. (rumah kebun, villa, hotel, sepeda, motor besar, mobil antique, paket paket wisata}
untuk anda yang ingin berbulan madu di bandung kami mempuyai mitra sebanyak 40 biro perjalanan. dengan 60 paket honey moon. anda dapat memilih nya sesuai kondisi anda.
untuk wisata petualangan kami mempunyai 10 biro perjalan xtrim (pendakian,arung jeram, dan lain nya)untuk anda yang hobby mengendarai motor trail kami mempuyai beberapa paket petualangan (mulai dari papandayaan garut kebandung via pengalengan)
semua itu begitu mudah nya anda memilih paket untuk akhir pekan.
untuk wisata kota anda kami mempunyai 9 paket yang di kelola 6 biro perjalanan (mulai tour harritage sampai factory outlet)
untuk paket meeting dan konperensi kami memiliki 60 paket ( dari semua katagori)

selamat datang di pendopo nol kilo meter

kilometer

kilometer adalah penunjuk jarak ato ukuran
dengan menyambungkan nol di depan nya melambangkan seakan akan tiada jarak lagi
dengan harapan seseorang yang datang ke bandung bener bener dapat mengenal bandung dengan lebih bijaksana.
semua nya kita mulai dari nol
tiada lagi yang lebih awal dari nol
ada dan tiada
tiada tapi di akui
apalah apakah masih seribu klo nol nya kita kurangin satu
semua insfirasi dapat di letakan di sana
disini kita sama sama memulai dari Nol

kenapa PENDOPO

ini agak sukar bagi saya memjawab nya
ketika pertama kali saya datang ke bandung...
saya kagum meliat ke elokan kota ini...
saya menikmati sangat menimati dan mengamumi kota ini
saya mengagumi nya, dan dekat di samping pendopo kota bandung,
saya meliat nya terkagum kagum sebuah warisan dari kebudayaan masa lalu yang masih terwat dan terpeliara tempat orang orang di sana menyebut nya pendopo.
dari sana lah denyut kota ini di atur..
di sana lah pemimpin kota menjamu tamu nya
bisa juga tempat walito melewati hore hari.

kenapa pendopo nol kilo meter

begini kisah nya yang saya ambil dari web bandung sejarah kota bandung

Jun 14, 2007 at 06:02 PM
Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Kota itu dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri. Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun. Beliau memerintah Kabupaten Bandung hingga tahun 1681.

Semula Ibukota Kabupaten Bandung terletak di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung sekarang. Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki "Dalem Kaum I", kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan Hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).

Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur (kira-kira 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.
Di daerah Bandung khususnya dan daerah Priangan umumnya, Jalan Raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada. Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman - Jalan Asia Afrika - Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya. Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos.
Rupanya Daendels tidak mengetahui, bahwa jauh sebelum surat itu keluar, bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup baik dan strategis bagi pusat pemerintahan. Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan, terletak di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang). Alasan pemindahan ibukota itu antara lain, Krapyak tidak strategis sebagai ibukota pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan.
Sekitar akhir tahun 1808 awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekati lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampung Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang).
Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun.

Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh bupati. Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung. Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.

agenda 2009

Agenda program Pendopo Nol kilometer

Desember

November
Bandung lautan api

Oktober
Sepanjang jalan kenangan

September
Life style bandung tempo dulu

Agustus
Perjuangan

Juli
Seni dan budaya

juni
Heritage bandung

Mei
Para tokoh tokoh bandung dari masa ke masa

April
Ultah kota bandung

Maret
ultah persib

Februari
Kenapa Nol kilometer

pendopo nol kilometer

nama tempat pendopo Nol kilometer
funsi tempat kongkow kongkow
begitu datang anda seakan akan baru nyampe di taman belakang rumah anda
tempat kita bertemu menjamu sahabat sahabat lama
dan rekan rekan bisnis

Menu makanan
untuk memperliatkan citra rasa yang sesungguh nya
kue kue kami di suplay dari toko kue yang memang udah ada sejak jaman bandung di pimpim belanda

minuman nya
kopi kami pun di suplai dari pabarik kopi yang telah berdiri hampir satu abab, dan mengolah biji kopi khas bumi pahrayangan

service
begitu nyampe akan di sapa oleh server,
sambil menawarakan minuman kopi yang bisa di ambil sendiri
di perapian ato di ambilkan
klo anda berinisiatif mengambil sendiri pelayan akan menemi sambil mencerikan
tentang asal kopi yang kita ambil
begitu pun tentang pabrik yang mengolah nya
walaupun kopi bandung menjadi menu utama
tapi kami juga menyedia kan kopi kopi dari belahan lain dari nusantara
seperti kopi gayo
kopi kerinci
dan banyak lagi lain nya
untuk di sebutkan
di samping itu kami juga ada wine
yang memang sudah ada sejak jaman belanda
dan sudah menjadi sebuah budaya di bandung sebelum nya
bagi kalangan warga belanda

service
begitu nyampe akan di sapa oleh server,
sambil menawarakan minuman kopi yang bisa di ambil sendiri
di perapian ato di ambilkan
klo anda berinisiatif mengambil sendiri pelayan akan menemi sambil mencerikan
tentang asal kopi yang kita ambil
begitu pun tentang pabrik yang mengolah nya
walaupun kopi bandung menjadi menu utama
tapi kami juga menyedia kan kopi kopi dari belahan lain dari nusantara
seperti kopi gayo
kopi kerinci
dan banyak lagi lain nya
untuk di sebutkan

17 desemaber kamis sore

kamis malam 16 desember malam tahun baru..
diri ku sampai di kota yang sering di sanjung sanjung di nusantara ini
setelah memasuki kota nya langkah ku arahkan ke Pendopo Nol kilometer.
ku hempaskan ke letihan di atas sopa tua di pojok sambil menghirup ke
sejukan sore itu, mungkin memang berbeda klo di bandingkan masa masa
menir belanda menjadikan bandung sebagai kota peristirahatan, berdasar
bukti bukti yang ada bebera meter dari sana tongkat kota bandung di
tancapkan,. pojok atas bar keliatan poto poto para pemimpim bandung.
tak berapa lama seorang pelayan menghampiri ku
menyapa dengan senyuman khas tanah priangan, sambil menananyakan
adakah sesuatu dapat di bantu.
karna saya baru pertama kali dataeng ke pendopo 0 Km.
saya diajak berkeling sambil memperkenalkan bandung pada saya, seakan
akan semua nya telah di siapkan untuk saya.
sambil mengucapkan terimaksih saya sampaikan pada nya klo saya mau
minum kopi aja
pelayan itu menanyakan apakah saya mau di ambil kan, aku mau bikin
sendiri.
saya coba bikin sendiri aja ujar ku
silahkan bapak di sebelah sana di atas perapian ada 2 buah teko kedua
telah berisi air panas.. di samping nya ada meja kecil, disana ada
beraneka macam kopi di nusantara ini
yup,
saya melangkahkan kaki kesudut ruangan itu di ikututi pelayan tadi
karan saya sedikit bingung memilih kopi nya pelayan tadi datang
menghampiri, maaf adakah yang dapat saya bantu
ujar nya
oya saya mau coba kopi bandung
sambil memperliat kan merek kopi nya kepada saya pelayan bertutur
tentang proses kopi dan awal pendirian nya
minum kopi sama pisang rebus di sore yang indah
gerimis masih aja membasuh debu pada bunga bunga di pinggir jalan.
sambil menghirup